Cari Artikel

Senin, Januari 07, 2008

Pelajaran Berharga dari Borussia Dortmund

Sekilas Mengenai Borussia Dortmund
Masyarakat kita mungkin hanya sedikit yang mengenal Borussia Dortmund. Klub yang saat ini berada di peringkat 10 Bundesliga 1 ini memang tidak terlalu banyak memiliki pemain-pemai tenar. Tidak ada lagi nama Thomas Rosicky, Jan Koller, dan juga Jaap Stam. Klub ini “hanya” memiliki pelatih Thomas Doll, striker Kroasia Mladen Petric, dan juga gelandang timnas Jerman Sebastian Kehl.
Padahal jika berbicara prestasi, berbagai trofi pernah mampir ke Signal Iduna – markas Dortmund. Termasuk gelar Piala Champions Eropa pada tahun 1997. Memang prestasi Dortmund dalam beberapa tahun ini tergolong biasa-biasa saja. Namun, apa jadinya jika klub Liga Jerman ini bersua dengan tim nasional Indonesia? Secara postur tubuh, skill, dan pengalaman Dortmund masih setingkat berada di atas timnas kita.
Rabu (19/12), timnas kita berkesempatan menjamu Borussia Dortmund. Sebuah momen emas yang tak boleh disia-siakan. Timnas dilatih oleh Benny Dollo alias Bendol. Namanya gak beda jauh kan dengan Thomas Doll? Mau tahu lebih banyak ttg Dortmund? Silakan klik di sini.
Saya dan saudara sepupuku, Irham, pergi ke Senayan, Jakarta untuk menyaksikan pertandingan tersebut. Sebenarnya saya masih memiliki jadwal kuliah. Tapi ingat, “Lupakan kuliah demi Persib!” Memang yang bertanding bukan Persib. Tapi di timnas ada dua pemain Persib yang dipanggil, yakni Suwita Pata dan Nova Arianto.

From Bandung to Senayan, Jakarta, the Journey was So Far
Saya dan irham berangkat dari daerah Riung Bandung jam 5.45. Kan mau naik Baraya travel yang di jalan soekarno-hatta. Baraya itu tempatnya sangat dekat dengan perempatan buah batu. Saya ikut travel yang berhenti di daerah Jatiwaringin. Teuing tah jatiwaringin teh di daerah mana. Yah, bismillah aja deh yang penting naik dulu. Harganya Rp35ribu. Yang naik cuma enam orang. Travel berangkat pukul 07.00.
Gancang pisan euy naik baraya mah. Jam 9 udah sampai lagi di jatiwaringin. Hebat cuma dua jam. Oh ternyata jatwaringin tuh di dekat pondok gede daerah jakarta timur. Dengan bertanya pada orang-orang sekitar, dari jatiwaringin saya menuju daerah cililitan. Saya ke cililitan kan mau ketemu temanku, sone, soalnya saya sudah menitip tiket ke dia. Dia sempat syok juga soalnya saya bisa dateng cepet banget. Dia belum mengambil tiket dari temennya, jadi dia bilang biar saya jalan-jalan aja dulu di Pusat Grosir Cililitan (PGC).
Dalam perjalanan menuju cililitan ada dua kejadian menarik yang menunjukkan betapa kerasnya ibukota. Pertama, saat menuju UKI. Ada motor yang menyerempet bis yang saya tumpangi. Motornya jatuh sampai rusak parah. Tapi itu memang kesalahan dia, jadi yah dia pasrah aja.
And next, saat naik angkot 06A menuju daerah cililitan. Keadaan kan "amat sangat macet sekali pisan banget". Tiba-tiba mobil di belakang menabrak angkot yang kutumpangi. Sontak dia pun marah, "Lo nabrak mobil gw!" gitu katanya ke sopir angkot sambil marah-marah. Yah elah orang ga nabrak juga. Akhirnya sih kedua orang itu berhenti dan memanggil polisi untuk menyelesaikan masalah mereka. Saya sih ganti angkot aja, ngapain ngurusin masalah orang. Ck..ck..ck.. Jakarta emang edan.
Akhirnya sampai juga deh di cililitan. Setelah jalan-jalan ga jelas di PGC, saya dan irham pun makan dulu McDonald. Rp32ribu berdua? Yah ga apa-apa lah sekali-kali. Akhirnya temanku,sone, pun datang. Saya menukarkan dua brownis yg dia pesan dengan dua tiket kategori 2. Jadi kaya zaman purba aja ya pake barter. Ternyata sone dan temannya ga jadi nonton. Yah udah saya berdua ama irham aja nontonnya. Saat itu jam menunjukkan pukul 11.00. Masih berselang 6 jam dari kick off.
Dari cililitan saya dan irham naik busway. Pengalaman pertama naik busway nih. Akhirnya.. Bayar tiketnya sekali doang Rp3500. Naik busway rame gitu ey pasedek-sedek. Dan saya mengalami tiga kali transit, dan semuanya dilalui dengan berdiri! Duduk mungkin hanya lima menit. Yah ga apa-apa demi tim nasional. Jadi perinciannya begini: dari cililitan, transit di matraman, terus ke dukuh atas dan akhirnya sampai juga di Gelora Bung Karno. Oh iya di perjalanan ada kejadian menarik lagi. Saya melihat ada dua orang pengendara yang sudah bersiap untuk baku hantam. Tak tau masalahnya apa. Buset, serem amat ya..!
Sekitar jam 12.15 saya tiba di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Alhamdulillah berkat kuasa-Nya saya bisa tiba walaupun benar-benar blank soal Jakarta. SUGBK benar-benar megah, luar biasa. Oh iya di sana ada banyak calo. Herannya, calo bisa menjual tiket sama dengan harga aslinya Rp20ribu! Hah, kok bisa?
Masih lama kan kick off-nya. Saya keliling aja dulu di sekitar stadion. Ada kantor PSSI kan. Saya pingin ketemu ketua umumnya. Ketua umum kan (harusnya) bekerja di kantornya. Hah, ada di penjara ya? Oh iya lupa.
Jam satu saya shalat dulu di masjid yang ada di dekat stadion. Karena dalam perjalanan, dzuhur bisa diqashar 2-2 dengan ashar. Saat di masjid, hujan pun mulai turun. Saya pun menunggu hujan reda di masjid. Pukul 14.45 saya keluar masjid dan membeli kaos timnas yang dijual di dekat masjid. Setelah ditawar saya bisa membeli Rp20ribu. Ada satu hal yang membuat heran. Tiket kelas satu yang seharga Rp50ribu bisa dijual Rp30 ribu saja oleh calo. Sebuah tanda tanya besar tentunya.

Finally, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK)
Pukul 15.00 saya pun memasuki stadion. Tak apalah menunggu di stadion. Atmosfer stadion yang luar biasa tentunya dapat membuat waktu menunggu tak terasa. Apalagi di stadion ada sebuah televisi layar besar. Memang saat itu hujan turun. Namun, seluruh tempat di stadion tertutupi atap sehingga para penonton tidak kehujanan.
Saya kan duduk di sektor 14 yang kategori 2. Ada di belakang gawang. Ternyata pintu ke kategori satu dibuka dan tidak ada yang menjaga. Wah kesempatan nih. Saya pun pindah tempat ke kategori 1, yang seharusnya harga tiketnya Rp50ribu. Haha.. enak banget ya. Hanya dengan 20ribu, bisa memperoleh tempat yang sangat enak.
Akhirnya banyak juga penonton yang hadir. Memang tidak sepenuh Piala Asia lalu, karena tiket yang dijual hanya berjumlah 41.500. Yel-yel untuk timnas Indonesia pun mulai dilakukan. Ada banyak orang jerman juga ternyata. Saya memotret beberapa momen penting, soalnya udah bawa kamera.
Oh iya di SUGBK kan ada layar televisi. Sesekali menyorot penonton juga. Parahnya yang disorot tuh awewe nu geulis wae. Kalo bukan awewe ya bule yang disorot. Kalo yang biasa-biasa aja kaya saya sih mana mungkin disorot.

Nova starter, Suwita pengganti
Akhirnya pukul 17.00 pun pertandingan dimulai. Teriakan "Indonesia... Indonesia" mulai bergema di stadion. Memang luar biasa. Sangat enak nonton di SUGBK, kalo tidak jelas melihat di lapangan ada televisi yang menyiarkan siaran langsung RCTI. Namun, setiap ada replay tayangan televisi selalu diganti dengan tulisan skor. Mungkin hal itu sengaja dilakukan agar wasit tidak mengubah keputusannya setelah melihat replay.Pertandingan sendiri berjalan kurang menarik. Sepertinya Dortmund bermain kurang serius. Hanya sedikit tendangan ke gawang yang dilakukan. Satu-satunya gol pada pertandingan tersebut dicetak oleh Mladen Petric. Striker yang memupuskan mimpi Inggris tampil di Euro 2008 itu mencetak gol dari titik putih pada menit ke-44.
Pertandingan ini menjadi momen yang sangat istimewa bagi dua pemain Persib, Nova Arianto dan Suwita Pata. Kedua pemain itu menjalani debutnya bersama tim nasional. Nova tampil sejak menit pertama. Ia bermain cukup taktis. Namun ia membuat sebuah kesalahan fatal. Pelanggarannya terhadap pemain Dortmund berbuah penalti. Penalti yang dapat dieksekusi dengan baik oleh Petric dan menjadi satu-satunya gol pada pertandingan tersebut.
Babak kedua, saat Indonesia mulai berani menekan, Suwita masuk menggantikan Firman Utina. Sayang debutnya berjalan kurang baik. Ia terlalu lama memainkan bola, sehingga sebuah peluang emas untuk melakukan serangan balik terbuang sia-sia. Berita lengkap tentang Indonesia-Dortmund bisa diklik di sini.

Pelajaran Berharga
Meski mengandalkan serangan balik, Indonesia yang turun dengan pola 4-4-2 berhasil menciptakan tiga peluang. Salah satu peluang terbaik adalah tendangan keras kaki kiri Bambang Pamungkas pada menit ke-70. Namun tendangan Bambang berhasil ditepis kiper Dortmund Marc Zeigler. Indonesia memang kalah. Namun hanya kalah tipis 1-0 dari tim sekelas Dortmund bukanlah hal yang patut disesali. Para penonton tetap memberikan apresiasi kepada timnas. Kembang api yang dilemparkan ke udara membuat suasana tetap semarak. Para pemain pun saling bertukar kaus. Herannya, Mladen Petric tidak mau bertukar kaus. Sombong sekali ya dia.Yang pasti pada pertandingan ini timnas mendapatkan pelajaran berharga dari dortmund. Dan bukan hanya timnas yang mendapatkan pelajaran berharga. Saya pun mendapatkan pengalaman berharga yang mungkin akan berguna jika suatu saat "terpaksa" bekerja dan menetap di Jakarta

0 komentar:

Poskan Komentar

silakan komentarnya..
kalo gak punya blog, pilihnya name/url.. urlnya kosongin aja.. okey.. thx a lot