Cari Artikel

Sabtu, Januari 12, 2008

Tahun 2007, tahun Penuh Pembelajaran bagi Persib

Baru saja kita merayakan pergantian tahun dari tahun 2007 ke tahun 2008. Dan tak lupa dari 1428 H menuju 1429 H. Pergantian tahun ini adalah saat yang paling tepat untuk bermuhasabah atau berintrospeksi diri. Berintrospeksi atas berbagai kejadian di tahun lalu dan mencoba memperbaikinya di tahun ini. Kesalahan-kesalahan apa yang telah kita lakukan di tahun lalu dan kita coba untuk perbaiki di tahun ini. Kegagalan apa yang telah menimpa kita dan berusaha untuk mencapai keberhasilan di tahun ini.

Lalu apa hubungannya antara proses muhasabah dengan tim kesayangan kita, Persib Bandung? Yup, seperti yang kita ketahui pada tahun 2007 lalu tim kesayangan kita mengalami kegagalan total. Gagal menjadi juara, bahkan gagal lolos ke babak delapan besar. Harapan bobotoh untuk menyaksikan tim kesayangannya merengkuh gelar juara pun pupus sudah. Semakin panjanglah puasa gelar yang dialami tim Maung Bandung.

Padahal pada putaran pertama lalu Persib tampil gagah perkasa. Persib mendatangkan berbagai pemain berkualitas seperti Christian Bekamenga, Nova Arianto, dan Nyeck Nyobe. Kemenangan 3-0 di penghujung putaran pertama atas musuh besarnya Persija Jakarta membuat Persib menjadi tim terbaik paruh musim. Target juara tampaknya bukan omong kosong belaka, jika melihat perjalanan Persib di putaran pertama yang nyaris tanpa cacat.

Terlalu Banyak Intervensi


Sudah sewajarnya komposisi tim yang terbukti sukses meraih juara paruh musim telah terbukti ketangguhannya. Lalu sebenarnya apa yang ada di pikiran manajemen Persib saat mencoret Nyeck Nyobe dan menggantinya dengan Leo Chitescu? Sudah jelas Nyeck Nyobe menjadi faktor penting yang membuat lini belakang Persib tangguh di putaran pertama. Chitescu? Di klub lamanya saja, PSM, ia tampil tidak terlalu istimewa.

Pencoretan Nyeck Nyobe dan menggantinya dengan Chitescu ditengarai menjadi faktor utama menurunnya prestasi Persib di putaran kedua. Pergantian komposisi tim dapat mengganggu keharmonisan dan kesatabilan tim yang sudah terbukti tangguh di putaran pertama. Persib tentunya perlu menggunakan taktik baru dengan datangnya Chitescu.

Manajemen sempat berkilah, peran Nyeck Nyobe dapat digantikan oleh pemain lain. Boleh saja manajemen berkata begitu, tapi hasil di lapanganlah yang berbicara. Persib hanya meraih 18 poin di putaran kedua, jauh berbeda dengan putaran pertama yang meraih 36 poin. Stadion Siliwangi sudah bukan menjadi sahabat lagi bagi Persib. Hanya dua kali Persib sukses meraih poin penuh di kandangnya sendiri.

Pergantian pelatih dari Arcan Iurie ke Tim Lima saat kompetisi berlangsung terbukti tidak berpengaruh. Persib tetap saja tidak lolos ke delapan besar. Wajar saja, yang salah bukanlah pemain atau pelatih tetapi manajemen tim yang terbukti tak dapat menciptakan suasana harmonis di putaran kedua.

Selain itu posisi pelatih kepala di Persib adalah posisi yang sarat beban mental, tantangan, dan tekanan. Banyak tekanan yang muncul dari sana-sini karena banyak orang yang merasa “pintar” di Persib yang turut mengintervensi kebijakan tim. Hal ini berbeda dengan yang dialami Rahmad Darmawan di Sriwijaya FC. Di tim itu ia bebas bergerak, tak ada beban “harus juara” dan pihak yang ikut campur. Alhasil Laskar Wong Kito sukses merengkuh gelar Copa Dji Sam Soe 2007.

Bobotoh sebagai suporter setia pun harus ikut berintrospeksi. Jangan sekali-kali meniru tindakan suporter terbaik Copa (baca: The Jak) yang sering berbuat kerusuhan. (haha.. The Jak suporter terbaik, mau muntah sayah.. hoeeekkk..!) Ingat rasa cinta bukanlah diwujudkan dengan tindakan anarkis,melainkan dengan dukungan sportif yang tiada henti!

Saatnya Menatap ke Depan
“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah Maha Mengetahui sedang kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 216)

Kita semua sebagai bobotoh tentunya berharap Persib menjadi yang terbaik musim ini. Kita tentu sedih karena Persib gagal melenggang ke babak 8 besar, Tapi ternyata Allah SWT mempunyai rencana lain yang tidak kita ketahui. Mungkin tahun 2007 belum saatnya Persib menjadi yang terbaik karena memang masih banyak hal yang harus diperbaiki. Jadikan saja kegagalan di tahun 2007 menjadi pembelajaran untuk tampil lebih baik tahun ini. Semoga di Liga Super Indonesia (LSI) yang akan dimulai Juli mendatang Persib akan berprestasi lebih baik. Akhir kata, selamat tahun baru 2008 M, selamat tahun baru 1429 H! Semoga tahun ini lebih baik dari tahun kemarin!

0 komentar:

Poskan Komentar

silakan komentarnya..
kalo gak punya blog, pilihnya name/url.. urlnya kosongin aja.. okey.. thx a lot