Cari Artikel

Sabtu, Agustus 23, 2008

SBY Leadership

From: Paulus Herlambang
Subject: [itb77] Re: HARUS BISA! : SBY Leadership
To: itb77@bhaktiganesha.or.id
Date: Friday, August 15, 2008, 11:48 AM

----- Original Message -----
Bagaimana dgn jutaan orang lain yang tidak membaca buku ini?
---
Gampang! Kirim artikel anda di bawah ini ke Kompas (setelah diedit seperlunya).
Salam,
Paulus
----- Original Message -----
From: amrie noor
Sent: Friday, August 15, 2008 11:22 AM
Subject: [itb77] HARUS BISA! : SBY Leadership

Dear All,

Dalam pilpres 2004, saya tidak memilih SBY.
Dalam perjalanan era kepemimpinannya, saya banyak tidak puas dan gemes pada gaya kepemimpinannya
yang terkesan lambat dan tidak berani dalam pengambilan keputusan, padahal beliau adalah presiden RI
pertama yang dipilih langsung oleh rakyat dg dukungan mutlak.

Minggu lalu , jalan2 ke Gramedia , sambil agak ragu saya memutuskan membeli buku tulisan Dino Patti Djalal, diplomat kawakan yg
diangkat SBY sebagai Staf Khusus bidang Hubungan Internasional/Juru Bicara Kepresidenan sekaligus 'speech writer'nya.

Buku yg berjudul 'HARUS BISA!' ini merangkum laporan pandangan mata langsung dari Dino ( catatan harian ) tentang
perkembangan kepemimpinan SBY sejak pertama kali dilanda krisis Tsunami Aceh sampai awal 2008.

Spt saya sampaikan diatas, awalnya saya ragu apakah buku ini ada manfaatnya bagi saya pribadi. Sempat saya berprasangka
bahwa tentu si penulis akan 'biased' dan tidak obyektif karena menulis tentang bossnya dalam posisi sedang menjabat
sebagai salah satu staff khusus.

Selagi membaca, lembar demi lembar , dari awal yang penuh keraguan saya kemudian 'hooked' dan akhirnya bersyukur telah membeli buku
ini yang membuka mata dan hati saya lebar2 tentang kepemimpinan SBY yang ternyata sangat fokus, visionary, proaktif (terutama
dalam bidang hubungan Internasional) dan berlandaskan pada falsafah moralitas :'setiap masalah pasti ada solusinya, setiap
krisis pasti ada peluang'.

Shinta (my wife) juga membacanya dan ada beberapa bagian yang membuatnya terharu dan menangis (tentang Aceh), tetapi
kami bersepakat banyak hal2 yang telah dilakukan SBY yang membuat kami bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

Berikut beberapa prestasi kepemimpinannya yang membuat saya terkesan dalam2.

Domestik : Penanganan segera bencana Tsunami Aceh dan memutuskan 'open door plicy' agar LSM dan negara asing dapat
mengirimkan bantuannya langsung (termasuk personel militer) tanpa tetek bengek birokrasi.
SBY segera melihat peluang dan dg berani memprakarsai kembali perundingan damai langsung dg GAM tanpa perantara
negara lain.

Internasional : Menggalang 11 negara-negara dunia yg mempunyai hutan tropis ( Forestry 11 ) dan berhasil memposisikan kelompok ini
sebagai bagian dari solusi, bukan hanya biang permasalahan gejala global warming.

Mengubah image Bali yg identik dg Bali bombing menjadi Bali Roadmap, atas keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah
UN Conference on Climate Change yg menelurkan target yang lebih konkrit dan terukur dalam usaha2 bersama antara
negara2 maju dan berkembang dalam usaha2 penyelamatan lingkungan secara global.

Berani menegur AS di kandang macan , agar Amerika lebih mengedepankan soft power ( diplomasi budaya, seni dan kemanusiaan )
dari pada hard power ( militeristik ) dalam hubungannya dg negara2 lain.

Memanfaatkan dg jeli kasus 'Kartun Nabi' dg menulis artikel brilian di International Herald Tribune tentang perlunya freedom
of speech yang didewa2kan oleh pers barat diseimbangkan dg sikap toleran yg tinggi. Sebagai tindak lanjut, SBY memprakarsai
'Inter Media Dialogue' antar chief editors media2 di dunia utk membahas masalah ini.

Humanity : Dg jeli 'membacakan' surat2 dua gadis cilik , maggie dari michigan dan nada, yatim piatu aceh pada kesempatan pidato
di Gedung Putih..

Personal : punctuality, dg gigih berusaha mengubah budaya jam karet di kalangan birokrat kita.
demokrat, melapor ke Polda ( bukan memanggil Kapolri ke istana ) dalam kasus pencemaran nama baik oleh Zainal Ma'arif.
pemaaf, memaafkan Zaenal Ma'arif dg surat yg ditulis sendiri setelah ybs dg tulus menulis surat pribadi permintaan maaf.


Pendek kata, saya menyarankan teman2 ITB77 untuk membeli buku ini dan menarik pelajaran dari falsafah kepemimpinannya.

Apakah saya akan memilih SBY dalam pilpres mendatang? Belum tentu. Yang jelas saya akan lebih apresiatif terhadap usaha2 yang dilakukannya.

Apakah saya menyesal atas posisi kritis saya terhadap SBY selama ini? Sama sekali tidak, karena dari adanya gap 'perception' dan 'reality' ini
terbukti SBY tidak mempunyai staf yang ahli dalam mengkomunikasikan ke publik tentang alasan2 kebijakan publiknya.

Hanya karena saya membaca buku inilah gap antara persepsi dan realitas itu terjembatani.

Bagaimana dgn jutaan orang lain yang tidak membaca buku ini?


amrie/

0 komentar:

Poskan Komentar

silakan komentarnya..
kalo gak punya blog, pilihnya name/url.. urlnya kosongin aja.. okey.. thx a lot