Cari Artikel

Minggu, Agustus 17, 2008

Drama Tragedi Heysel (Fiksi + nonfiksi)

Scene 1

Cast: Thomas, Robert, Antonio

EKS. Stadion Heysel, Belgia, 29 Mei 1985 pukul 18.45– Sektor Y

- Angle kamera dari atas perlahan ke bawah, memperlihatkan kemegahan Stadion Heysel di kota Brussels, Belgia. Pertandingan puncak Piala Champions antara sang juara bertahan Liverpool dan Juventus akan segera dimulai. Tak kurang dari 60.000 penonton telah memenuhi stadion.



Lagu OST. Champions League

- Kamera memperlihatkan dua orang Liverpudlian yang sedang berbincang.

Thomas

Robert, my friend. Sepertinya The Reds akan memenangkan pertandingan ini.

Robert

Yup, aku yakin Ian Rush bakal bikin gol lagi.

Thomas

Kita pindah tempat duduk yuk. Kelihatannya di sektor Y sana lebih banyak Liverpudlian.

Robert

Iya benar juga. Mereka pasti sedang menyanyikan lagu You’ll Never Walk Alone. OK, man. Let’s move there!

- Mereka berdua pun pindah ke sektor Y dan bergabung dengan Liverpudlian yang menyanyi memberi dukungan untuk Liverpool. Tak dinyana, di situlah terjadi sebuah tragedi yang sampai sekarang masih dikenang sebagai tragedi Heysel.

CUT TO

-Angle kamera memperlihatkan wajah Robert yang terlihat panik.

Robert

Ada apa ini? What happened? Aaaarggh!!

- Robert dan Thomas, beserta seluruh Liverpudlian panik. Mereka terlibat bentrok dengan Juventini yang berdekatan lokasinya. Muncul Antonio, seorang Juventini.

Antonio

What the **** is this!!! Hey, kamu! Mau cari ribut kau!!

Thomas

Hey, tunggu! Calm down! Aku rasa ini salah pengertian!!

- Namun terlambat. Situasi menjadi tak terkendali. Botol-botol dan juga batu beterbangan ke sana kemari. Situasi yang sebenarnya tak diinginkan siapa pun.

CUT TO

Scene 2

Cast: Antonio, Caroline, Thomas, Robert

EKS. Stadion Heysel, Belgia, 29 Mei 1985 pukul 18.45– Sektor Z

- Para Juventini memenuhi stadion Heysel. Mereka berharap La Vecchia Signora, Juventus, mampu menghentikan langkah sang juara bertahan, The Reds Liverpool. Kamera menyorot sepasang kekasih, Antonio dan Caroline yang sedang menyaksikan pertandingan.

Antonio

Honey, apakah kau sudah siap dengan pernikahan kita?

- Kamera menyorot Caroline yang terlihat malu.

Caroline

Oh, tentu saja. Dan aku rasa kemenangan Juventus akan menjadi kado indah untuk pernikahan kita.

Antonio

Yup, tentu saja. Bukan hanya kau. Seluruh Juventini yang ada di stadion ini dan juga di seluruh dunia tentunya berharap demikian.

- Jam menunjukkan pukul 19.00. Tiba-tiba saja terjadi pelemparan-pelemparan. Tak jelas siapa yang memulai, Liverpudlian dan juga Juventini terlibat bentrokan hebat.

Kamera menyorot Antonio yang bertemu dengan Thomas seorang Liverpudlian yang melempar botol ke arahnya.

Antonio

What the **** is this!!! Hey, kamu! Mau cari ribut kau!!

Thomas

Hey, tunggu! Calm down! Aku rasa ini salah pengertian!!

Antonio

Aku tak mau tau..!@!

Caroline

Honey, aku takut!!

Thomas

Bukan saatnya untuk berdebat!! Lebih baik selamatkan diri..!!

- Suasana tak terkendali. Robert yang masih bersama Thomas terjatuh. Kamera menyorot Robert.

Robert

Aaarggh..!!

Thomas

Kau baik-baik saja. Aku bingung..! Mengapa kita jadi terlibat bentrok..! Pertandingan saja belum dimulai..!

Robert

Aku tak tau..!! Tapi aku rasa mereka yang mulai duluan!! Thomas lihat itu…!!! Sepertinya tembok di sektor Z akan roboh.

- Kamera menyorot tembok sektor Z, sektor yang ditempati Juventini roboh dan menimpa Juventini yang berada di sana. Korban pun berjatuhan, 39 tewas dan sekitar 600 orang luka-luka.

Robert, Thomas, dan Liverpudlian lain panik. Juventini yang melihat rekannya banyak yang menjadi korban mulai memburu dan memukuli para pendukung The Reds.

Scene 3

Cast: Joe Fagan, Alan Kennedy

EKS. Stadion Heysel, Belgia, 29 Mei 1985 pukul 19.00– Kamar Ganti pemain Liverpool

- Kamera menyorot para pemain Liverpool di ruang ganti pemain. Terlihat mereka sangat terpukul setelah mengetahui kejadian yang terjadi. Beberapa tak menginginkan pertandingan digelar, beberapa mengatakan semua harus berkonsentrasi pada pertandingan.

- Kamera langsung menyorot pelatih Liverpool, Joe Fagan.

Joe Fagan

Aku harap kalian harus tetap berkonsentrasi pada pertandingan. Bermainlah seperti biasa. Walaupun banyak fans Juventus yang tewas, aku rasa kalian harus tetap bermain sungguh-sungguh! Kalian siap???

- Seluruh pemain Liverpool terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba saja bek Liverpool Alan Kennedy angkat bicara.

Alan Kennedy

Coach, aku rasa sulit bermain dalam situasi seperti ini. Teman-teman pun tampak tidak berkonsentrasi. Bagaimana ini? Apakah kita akan benar-benar bertanding??

- Suasana sunyi senyap, tak ada lagi yang berbicara. Ternyata UEFA tidak membatalkan pertandingan. Para pemain Liverpool tetap harus bertanding walaupun situsai tidak kondusif.

CUT TO

- Kamera menyorot para pemain Liverpool yang berjalan ke tengah lapangan. Dengan sangat terpaksa mereka harus tetap bertanding.

Scene 4

Cast: Garry Gillespie, Michel Platini, wasit

EKS. Lapangan Stadion Heysel, Belgia

- Kamera menayangkan highlight dan momen-momen penying pertandingan secara sekilas. Kedua tim silih berganti menyerang. Tiba-tiba terjadi insiden di (dekat) kotak penalti Juventus. Kamera menyorot Garry Gillespie yang menjatuhkan Zbigniew Bonek. Wasit meniup peluit.

Wasit

Penalti!!

Garry Gillespie

Tapi aku menjatuhkan dia di luar kotak penalti!!!

- Pemain Liverpool lain pun turut memprotes. Tayangan ulang memang menunjukkan pelanggaran dilakukan di luar kotak penalti. Tapi wasit tak bergeming. Ia tetap memberikan penalti untuk Juventus.

Kamera langsung berpindah pada Michel Platini yang bersiap mengeksekusi penalti. Daan… GOOOALLLL!!!! 1-0 untuk Juventus.

Michel Platini

YES!! Aku yakin Juventus akan menang! Untuk korban tragedi tadi…!!

- Pertandingan terus berlanjut. Tapi Liverpool tampaknya kesulitan membalas. Skor akhir tetap 1-0 untuk kemenangan Juventus. Kemenangan kontroversial yang membawa Juventus meraih gelar Piala Champions untuk pertama kalinya sekaligus menghentikan dominasi Liverpool di Eropa saat itu.

- Kamera menyorot pemberian trofi untuk para pemain Juventus.

Scene 5

Cast: Alan Kennedy

EKS. Konferensi Pers

- Para wartawan mewawancarai para pemain Liverpool mengenai kekalahan mereka. Pemain yang tampak di antaranya Alan Kennedy.

Alan Kennedy

Kami tak akan memenangi partai itu. Banyak fans Juventus yang tewas dan kami sadar bahwa semua orang akan menyalahkan Liverpool.

- Beberapa pertanyaan pun diajukan para wartawan. Kekalahan tersebut menjadi penutup era keemasan Liverpool di Eropa karena sejak itu mereka dihukum tak boleh bertanding di level internasional selama sepuluh tahun. Klub-klub Inggris lain pun terkena imbas, larangan selama lima tahun. Larangan itu berawal dari rekomendasi Perdana Menteri Inggris, Margareth Thatcher. Namun, hukuman Liverpool dikurangi menjadi hanya enam tahun.

- Maka kesuksesan empat tim Premier League menembus babak perempatfinal musim 2007-08 ini bagaikan sebuah pengobat luka atas tragedi Heysel yang terjadi 23 tahun silam.

4 komentar:

pandhu mengatakan...

terlalu menyudutkan juventini ateuh kang....


tapi nya lumayan lah lamun dijieun drama jiga titanik mah hehehehe



-pd-

-juventini anti inter..dengan etika!-

luzman (admin) mengatakan...

ah masa sih.. prasaan mah netral..
emang kyk gitu ko cerita aslinya juga ditambah tokoh rekaan tapi
saaya bbaca di soccer series ttg kejadian itu
penaltina emang kontroversial
makanya suporter the reds sampai sekaranng masih dendam.. hehe

buat film bgs juga yah
ada suttradara yg tertarik ga yah?
hoho

jual botol kaca asi mengatakan...

YNWA

Mengatasi Septictank cepat penuh mengatakan...

selalu menarik info yang di update nya
saya senang bisa mampir di blog agan

Poskan Komentar

silakan komentarnya..
kalo gak punya blog, pilihnya name/url.. urlnya kosongin aja.. okey.. thx a lot