Cari Artikel

Sabtu, Agustus 09, 2008

Bangkit di Hari Kemerdekaan

A. Latar Belakang

Seratus tahun lalu, tepatnya tanggal 20 Mei 1908 lahirlah Budi Utomo, sebuah organisasi yang menjadi cikal bakal gerakan yang bertujuan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada akhirnya tanggal berdirinya Budi Utomo tersebut selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Sebuah momen yang seharusnya dijadikan sebuah pijakan untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme. Menunjukkan jati diri bangsa kepada dunia internasional. Sesuai dengan slogan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional,”Indonesia bisa!”

Sayangnya nilai-nilai kebangsaan itu perlahan mulai pudar. Tak ada lagi rasa bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Tak ada lagi rasa bhineka tunggal ika, berbeda-beda namun tetap satu jua, di kalangan penduduk Indonesia. Slogan itu serasa lenyap tak berbekas di tengah arus globalisasi dan modernisasi.

Kehalusan budi, sopan santun dalam sikap dan perbuatan, kerukunan, toleransi, serta solidaritas sosial, idealisme, dan sebagainya telah hanyut dilanda oleh derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang penuh paradoks. Berbagai lembaga kocar-kacir semuanya dalam malfungsi dan disfungsi. Kepercayaan di antara sesama, baik vertikal maupun horizontal telah lenyap dalam kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat Indonesia saat ini cenderung individulistik, hanya peduli pada dirinya sendiri dan cenderung lupa pada warna-warni bangsa ini yang multikultural. Sebuah keadaan yang sangat disayangkan.

Oleh karena itu momen satu abad kebangkitan nasional ini seharusnya dapat dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk menunjukkan jati diri bangsa. Menjadi bangsa yang cinta pada tanah airnya. Bangkit dan bangga pada perjuangan yang telah dilakukan 100 tahun silam.





A. Semangat Kebangkitan Nasional

Sebagai bangsa yang besar, kita harus optimis menatap masa depan karena kita hidup dalam abad ke-21 yang penuh dengan segala kemungkinan dan peluang. Bangsa kita memiliki kemampuan dan bisa mengubah nasib dan masa depan kita, serta bisa menjadi negara maju, unggul, dan sejahtera.”

Itulah sepenggal sambutan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangka menyambut 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Bangsa ini sebenarnya memiliki potensi untuk maju dan berdiri sejajar dengan bangsa lain. Sebenarnya kita bisa dan memiliki kemampuan mengubah nasib untuk menjadi lebih baik.

Sumber daya manusia di negeri ini pun sebenarnya sangat melimpah. Lalu faktor apakah yang membuat bangsa ini sulit bersaing? Mungkin karena ketidakmampuan kita dalam mengelola sumber daya yang ada secara optimal. Bangsa ini seakan lupa jasa para pahlawan yang telah membuat negara ini merdeka. Banyak yang terlena dengan kemerdekaan ini, dan tidak mau dan mampu membuat bangsa ini maju.

Sebelum berdirinya Budi Otomo, perjuangan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia masih bersifat kedaerahan. Maka tak salah jika tanggal berdirinya Budi Utomo dipenringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Sebab masa kebangkitan nasional adalah masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme, serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun.

Masa ini diawali dengan dua peristiwa penting Boedi Oetomo (1908) dan Sumpah Pemuda (1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli. Tokoh-tokoh kebangkitan nasional, antara lain: Sutomo, Gunawan, dan Tjipto Mangunkusumo, dr. Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryoningrat (Ki Hajar Dewantara), dr. Douwes Dekker.

Budi Utomo lahir dari pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen oleh beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk dan selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta bagaimana cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu. Para pejabat pangreh praja (sekarang pamong praja) kebanyakan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan. Dalam praktik mereka pun tampak menindas rakyat dan bangsa sendiri, misalnya dengan menarik pajak sebanyak-banyaknya untuk menyenangkan hati atasan dan para penguasa Belanda.

Para pemuda itu akhirnya berkesimpulan bahwa merekalah yang harus mengambil prakarsa menolong rakyatnya sendiri. Pada waktu itulah muncul gagasan Soetomo untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang akan mempersatukan semua orang Jawa, Sunda, dan Madura yang diharapkan bisa dan bersedia memikirkan serta memperbaiki nasib bangsanya. Perkumpulan ini tidak bersifat eksklusif tetapi terbuka untuk siapa saja tanpa melihat kedudukan, kekayaan, atau pendidikannya.

Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo. Namun, para pemuda juga menyadari bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa kedokteran masih banyak, di samping harus berorganisasi. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa "kaum tua"-lah yang harus memimpin Budi Utomo, sedangkan para pemuda sendiri akan menjadi motor yang akan menggerakkan organisasi itu.

Budi Utomo mengalami fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Noto Dirodjo. Saat itu, Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang sangat properjuangan bangsa Indonesia, dengan terus terang mewujudkan kata "politik" ke dalam tindakan yang nyata. Berkat pengaruhnyalah pengertian mengenai "tanah air Indonesia" makin lama makin bisa diterima dan masuk ke dalam pemahaman orang Jawa. Maka muncullah Indische Partij yang sudah lama dipersiapkan oleh Douwes Dekker melalui aksi persnya. Perkumpulan ini bersifat politik dan terbuka bagi semua orang Indonesia tanpa terkecuali. Baginya "tanah air" (Indonesia) adalah di atas segala-galanya.

Pada masa itu pula muncul Sarekat Islam, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai suatu perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam, untuk saling memberi bantuan dan dukungan. Tidak berapa lama, nama itu diubah oleh, antara lain, Tjokroaminoto, menjadi Sarekat Islam, yang bertujuan untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan. Sudah pasti keberadaan perkumpulan ini ditakuti orang Belanda. Munculnya gerakan yang bersifat politik semacam itu rupanya yang menyebabkan Budi Utomo agak terdesak ke belakang. Kepemimpinan perjuangan orang Indonesia diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij karena dalam arena politik Budi Utomo memang belum berpengalaman.

Karena gerakan politik perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah.

Kemarahan itu mendorong Soewardi Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel "Als ik Nederlander was" (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda. Namun, sejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam pergerakan orang-orang pribumi.

Pendirian Budi Utomo itulah yang menjadi cikal bakal perjuangan merebut kemerdekaan. Sejak saat itu organisasi-organisasi yang bertujuan mewujudkan Indonesia merdeka mulai bermunculan. Sebuah perjuangan panjang yang akhirnya melahirkan catatan bersejarah, proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 yang dibacakan oleh Ir. Soekarno.

Tentunya dalam rangka 100 tahun kebangkitan nasional ini, rasa semangat kebangsaan yang sudah lama padam harus dimunculkan kembali. Ingat kemerdekaan bangsa ini tidak didapat dengan mudah. Kita harus menghormati jasa para pahlawan dengan mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya.


B. Menanamkan Kembali Semangat Kebangsaan

Sebagai generasi muda, tentulah kita yang bertanggung jawab terhadap nasib bansa ini ke depannya. Hal ini sangat wajar sebab Kebangkitan Nasional 100 tahun silam pun dipelopori oleh para pemuda. Maka para pemuda harus membangkitkan kembali nilai-nilai kebangsaan dan juga nasionalisme seiring dengan kemajuan negara.

Paham nasionalisme atau paham kebangsaan merupakan sebuah situasi kejiwaan ketika kesetiaan seseorang secara total diabdikan langsung pada negara bangsa atas nama sebuah bangsa. Munculnya nasionalisme terbukti sangat efektif sebagai alat perjuangan bersama merebut kemerdekaan dari cengkeraman kolonial. Semangat nasionalisme diharapkan secara efektif dapat dipakai sebagai metode perlawanan dan alat identifikasi oleh para penganutnya untuk mengetahui siapa lawan dan kawan.

Identitas fundamental bangsa kita yakni UUD 1945 baru dihayati pada tataran kognitif. Implementasinya sendiri saat ini masih tidak konsisten. Identitas instrumental yakni bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan masih belum digunakan dengan baik dan benar. Identitas alamiah berupa kekayaan alam yang melimpah pun belum bisa dioptimalkan karena kualitas SDM yang rendah. Hal-hal tersebut adalah yang harus dibenahi akan semangat kebangsaan tetap terjaga.

Untuk mengembangkan jati diri bangsa, harus dimulai dari pengembangan nilai-nilai, yaitu nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, berani mengambil risiko, bertanggung jawab, serta adanya kesepakatan di antara sesama. Untuk itu, perlu perjuangan dan ketekunan untuk menyatukan nilai, cipta, rasa, dan karsa. (Soemarno, Soedarsono).

Bangsa ini adalah bangsa yang besar dan memiliki potensi untuk bangkit. Kekayaan alam seharusnya bisa dimanfaatkan. Kebudayaan yang beragam yang ada di tanah air seharusnya dapat dijadikan alat untuk membawa bangsa ini sejajar dengan bangsa lain.

Krisis moneter yang disusul krisis ekonomi dan politik dan juga krisis moral dan budaya menjadikan masyarakat Indonesia kehilangan orientasi nilai. Masyarakat Indonesia yang dikenal ramah menjadi kasar seta gersang dalam kemiskinan budaya dan kekeringan spiritual.

Lunturnya tata nilai disebabkan dua faktor yaitu:

1) semakin menonjolnya sikap individualistis, yaitu mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum.

2) semakin menonjolnya sikap materialistis, yang berarti harkat dan martabat kemanusiaan hanya diukur dari hasil atau keberhasilan seseorang dalam memperoleh kekayaan.

Arus informasi yang semakin pesat mengakibatkan akses masyarakat terhadap nilai-nilai asing yang negatif semakin besar. Apabila proses ini tidak segera dibendung, akan berakibat lebih serius ketika pada puncaknya masyarakat tidak bangga lagi pada bangsa dan negaranya. Hal yang harus dihindari agar tidak terjadi pada bangsa ini. Nilai-nilai kebangsaan harus bisa ditanamkan kembali.

C. Butuhnya Media Pemersatu Bangsa

Untuk mengatasi rasa nasionalisme yang semakin terkikis dalam diri bangsa Indonesia, tentunya dibutuhkan suatu media untuk memersatukan bangsa yang majemuk ini. Apakah media yang paling efektif sebagai pemersatu bangsa?

Salah satu media yang efektif adalah melalui televisi dan film. Deddy Mizwar telah membuktikan filmnya yang bertemakan nasionalisme yakni “Naga Bonar Jadi 2” sukses menjadi box office. Bahkan film “Naga Bonar” yang menjadi box office dalam dekade 1980-an kembali diputar kembali dan tetap mendapatkan apresiasi tinggi dari masyarakat. Film komedi yang bertemakan nasionalisme itu memperoleh sukses yang luar biasa.

Sayangnya hal tersebut tidak diikuti oleh pembuat film lainnya. Film di Indonesia sebagian besar bertemakan cinta, horror, dan komedi seks. Hal yang membuat film sebagai media pemersatu belum dapat berfungsi maksimal.

Ada satu media yang terbukti ampuh untuk mempersatukan bangsa ini, yakni olahraga. Masyarakat kita sangat mencintai olahraga. Contohnya yang paling menarik adalah saat Piala Asia 2007 lalu. Walaupun timnas kita berada di grup berat bersama semifinalis Piala Asia 2004 Bahrain, serta langganan Piala Dunia yakni Arab Saudi dan Korea Selatan dukungan kepada tim Garuda tak pernah luntur. Sekitar 100 ribu orang di Stadion Gelora Bung Karno menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Hal yang membuat beberapa orang menitikkan air mata, sesuatu yang tak pernah terjadi di upacara bendera sekalipun. Teriakan, “Indonesia! Indonesia!” terus membahana. Masyarakat dari berbagai daerah bersatu, mendukung timnas. Tak ada bentrok fisik, sesuatu yang sebenarnya sering terjadi di antara supporter Indonesia. Semua bersatu, memberikan dukungan kepada Tim Merah Putih.

Hasilnya, walaupun timnas kita gagal lolos ke perempatfinal, kita telah memberikan perlawanan yang luar biasa. Bahrain yang sebelumnya nyaris lolos ke Piala Dunia berhasil kita tekuk 2-1. Hanya kalah 2-1 dari itu Arab Saudi, itu pun karena beberapa keputusan wasit yang kontroversial. Kemudian tersingkir secara terhormat, hanya kalah tipis 0-1 dari semifinalis Piala Dunia 2002,Korea Selatan. Masyarakat kita tetap memberikan aplaus kepada timnas, berharap timnas dapat berprestasi di lain waktu.

Jiwa nasionalisme seperti itu pun pernah saya rasakan di Stadion Siliwangi, Bandung. Pada hari Jumat (25/4) bobotoh telah membuktikan nasionalisme mereka Bobotoh hadir bukan dengan seragam biru persib, namun dengan atribut merah-putih khas timnas Indonesia. Semangat kedaerahan berganti dengan semangat nasionalisme. Teriakan, “Indonesia! Indonesia!” bergema di seluruh penjuru stadion Siliwangi. Yel-yel untuk Persib berganti menjadi yel-yel untuk timnas Indonesia. Walaupun ketua umumnya narapidana, masih ada secercah kebanggaan dan harapan untuk timnas agar bisa kembali bangkit dan menggapai prestasi di kancah internasional. Maju terus Garudaku!

Saya yang duduk di tribun timur ikut merasakan atmosfer luar biasa itu. Nasionalisme tanpa batas. Tulisan, “Indonesia, You’ll never Walk Alone” terpampang di tribun samping utara. Bendera merah putih pun dikibarkan. Suasana dahsyat yang jarang terjadi di Siliwangi. Dukungan bobotoh terhadap timnas menggambarkan sebuah harapan agar timnas kembali bisa bangkit dan meraih prestasi tinggi.

Tentunya hal tersebut harus bisa dilakukan bukan hanya saat wakil kita tampil dalam dunia olahraga. Semanagat nasionalisme harus timbul kapan pun dan di mana pun. Untuk menunjukkan bahwa kita bisa dan sanggup meraih prestasi di kancah internasional.


Saat ini jiwa nasionalisme bangsa Indonesia banyak yang belum terlihat. Bangsa ini cenderung lupa pada nilai-nilai kebangsaan dan lebih condong kepada gaya hidup individualistis. Hal yang sangat disayangkan terjadi pada bangsa yang majemuk ini. Sebenarnya bangsa ini memiliki potensi untuk bangkit. Sebuah potensi yang seharusnya tak boleh disia-siakan oleh penduduk negeri ini.

Untuk menanamkan kembali rasa nasionalisme dan kebangsaan, diperlukan media yang cukup ampuh. Salah satu media yang cukup ampuh adalah televisi dan film. Selain itu adalah saat pentas olahraga seperti sepakbola dan bulu tangkis. Bangsa ini terlihat bisa bersatu saat mendukung tim nasional di pentas olahraga. Suatu hal yang seharusnya bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun.


Merdeka Bukan Berarti Bebas


Sudah 63 tahun silam atau tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 bangsa ini memproklamasikan kemerdekaannya. Saat itu bangsa ini telah lepas dari belenggu penjajahan. Ya, Indonesia merdeka dan bebas dalam membentuk pemerintahannya sendiri. Bebas dari penjajahan bangsa Jepang atau Belanda yang telah lama menduduki tanah air. Sungguh, merupakan nikmat Allah SWT yang harus kita syukuri sampai saat ini.

Tapi mengapa bangsa ini seolah sulit untuk maju? Mengapa negara kita justru tertinggal dari negara-negara yang baru merdeka setelah kita? Ingat 62 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk membentuk negara yang disegani. Kita juga memiliki sumber daya manusia yang melimpah. Apakah negara kita telah salah dalam memanfaatkan anugerah kemerdekaan?

Hal tersebut bisa terjadi karena bangsa ini salah kaprah dalam mengartikan kemerdekaan. Memang secara harfiah merdeka berarti bebas, berdiri sendiri, tidak terikat, dan lepas dari tuntutan (W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia). Itu secara harfiah. Namun dalam realita apakah ada merdeka sebebas-bebasnya tanpa aturan?

Dalam sebuah permainan pun, sepakbola misalnya tak ada kemerdekaan yang benar-benar bebas. Semua ada aturannya. Semua pemain memang merdeka (baca:bebas) dalam menciptakan gol. Namun, mereka tetap harus konsisten pada posisinya. Seorang penjaga gawang tentunya tak bisa ikut menyerang dan membiarkan gawangnya kosong. Memang secara peraturan tidak salah. Namun ia telah salah dalam memanfaatkan kemerdekaannya.

Coba bayangkan jika manusia benar-benar merdeka. Tentunya hukum rimba yang berlaku. Orang yang paling berkuasalah yang menang. Manusia dapat bertindak sekehendaknya. Untuk itulah masih diperlukan peraturan-peraturan. Misalnya, sebelum ada peraturan tentunya seorang mahasiswa bebas mengerjakan ujian dengan cara apa pun. Namun, ketika ada peraturan dilarang mencontek dan bekerja sama, kemerdekaan mahasiswa tersebut menjadi terbatas.

Begitu pun dalam kehidupan sehari-hari. Kita sebagai manusia telah diberikan kemerdekaan oleh Allah SWT. Namun, kemerdekaan tersebut dibatasi oleh aturan-aturan-Nya. Sayangnya, di negara ini masih banyak orang-orang yang salah dalam memanfaatkan kemerdekaan. Penguasa negeri ini banyak yang memanfaatkan kekuasaannya dan menggunakan uang rakyat untuk kepentingan sendiri. Mereka merasa bebas dan tidak bersalah dalam melakukan hal itu. Generasi muda banyak yang menyia-nyiakan masa mudanya dengan bersenang-senang, mabuk-mabukan, berjudi, dan lain-lain. Para wanita merasa bebas dalam memperlihatkan auratnya sehingga menggunakan pakaian yang serba ketat. Gaya hidup hedonisme justru banyak terlihat di negeri ini. Sungguh ironis, padahal negara ini adalah negara berpenduduk Islam terbanyak di dunia.

Jika memang itu yang terjadi, tentu bukan hal yang aneh jika Allah SWT murka. Hamba-Nya telah salah dalam memanfaatkan kemerdekaan. Anugerah kemerdekaan yang telah diberikan-Nya justru tidak dimanfaatkan dengan baik. Untuk itu marilah kita memanfaatkan nikmat kemerdekaan dengan baik, bukan merdeka yang benar-benar bebas. Dirgahayu negeriku, merdeka bangsaku! Selamat menikmati kemerdekaan!


0 komentar:

Poskan Komentar

silakan komentarnya..
kalo gak punya blog, pilihnya name/url.. urlnya kosongin aja.. okey.. thx a lot