Cari Artikel

Minggu, Februari 24, 2008

Kiat Sukses Menulis Opini

Saya pernah mengikuti pelatihan jurnalistik di Kabamedia di komp.Bumi Panyileukan. Saya berkesempatan mewawancarai Bapak Budhiana, redaktur opini Pikiran Rakyat. Trus, hasil wawancaranya dibuat artikel. Cara pengajaran di Kabamedia cukup unik, setiap pertemuan dari tulisan saya pasti ada yang salah, tapi jadi dapat pelajaran baru. Ini hasil tulisanku setelah beberapa kali dikoreksi. Udah dikirim, masih ga dimuat juga. Keuheul urang, kalau surat pembaca mah dimuat wae, tapi kan teu dapet duit euy... so, this is the article:

Sebagai intelektual muda, kita perlu menyebarluaskan pengetahuan dan gagasan-gagasan kita kepada masyarakat. Akan tetapi kita selalu terbentur oleh masalah menulisnya. Sering ditolak, kehabisan ide, atau bingung menentukan tema yang akhirnya membuat kita malas untuk menulis. Padahal sebenarnya tulisan opini itu bisa dimuat oleh media jika kita telah memenuhi syarat-syaratnya.

Namun sebelum beranjak lebih jauh kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu opini. Ada beberapa jenis naskah yang terdapat di media seperti berita, iptek, profil, kisah, fiksi, opini, dll. Opini merupakan naskah yang mengangkat sikap atau pendapat penulis terhadap topik atau isu yang sedang hangat. Opini bersifat memengaruhi pembaca agar sejalan atau tidak sejalan dengan sikap penulis. Berbeda dengan tulisan-tulisan lainnya opini memiliki beberapa syarat. Ini dia beberapa syarat agar sukses menulis opini.

Harus aktual

Salah satu syarat penting untuk menulis opini adalah aktualitas. Dalam menulis kita harus jeli melihat topik yang sedang hangat menjadi pembicaraan akhir-akhir ini. Hal ini bisa berupa kontrofersi yang sering menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Aktualitas itu diperlukan jika kita menulis di surat kabar karena surat kabar frekuensi terbitnya harian. Masalah yang aktual hari ini bisa menjadi basi pada esok harinya. Hal ini tentu berbeda jika menulis pada tabloid atau majalah yang terbit seminggu atau sebulan sekali. Masalah aktualitas tidak begitu penting jika kita menulis di surat kabar atau majalah.

Contoh aktualitas misalnya sekarang tentang peluang tim nasional Indonesia untuk merebut Piala AFF yang bulan ini (Januari 2007) diadakan di Singapura. Atau tentang cuaca buruk yang akhir-akhir ini terjadi memaksa berbagai penerbangan dan pelayaran ditunda. Budhiana, redaktur opini Pikiran Rakyat mengatakan persoalan yang kita angkat harus sesuai momentum yang ada atau up to date.

Pentingnya Otoritas

Biasanya kita sering menulis pengetahuan yang kita punya. Kita sering tidak menyadari bahwa yang kita tulis tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan kita. Budhiana menjelaskan bahwa salah satu syarat agar tulisan kita dimuat adalah harus memiliki otoritas untuk menjelaskan kepada publik.

Otoritas benar-benar diperlukan agar pembaca percaya terhadap penulis. Pembaca tentunya lebih percaya kepada penulis yang memang lebih ahli di bidangnya. Selain penguasaan masalah terhadap yang dibahas seorang penulis sebaiknya memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan masalah tersebut.

Otoritas itu bukan selalu berarti latar pendidikan. Bisa saja berupa aktivitas atau pekerjaan si penulis. Seorang mahasiswa Fikom misalnya, jika ia juga aktif di bidang keagamaan maka tentu saja ia bisa menulis bidang agama. Seorang lulusan Fisip yang saat ini bekerja sebagai wartawan tentu saja boleh menulis mengenai kewartawanan. Seorang mahasiswa FKG yang aktif di bidang kesenian bisa menulis tentang perkembangan seni. Budhiana mengatakan otoritas itu tidak berarti satu dan jangan terlalu banyak, maksimal tiga. Jika kita menulis suatu artikel namun tidak memiliki otoritas, itu menjadi tidak etis.

Bahasa Populer

Dalam menulis kita sering bangga jika menulis dengan kata-kata ilmiah yang belum tentu semua orang mengerti. Padahal salah satu syarat penting dalam menulis artikel adalah menggunakan bahasa populer yang biasa digunakan di kalangan masyarakat umum. Budhiana menjelaskan bahwa bahasa populer harus digunakan karena koran dibaca oleh semua kalangan. Jika kita menggunakan bahasa populer apa yang kita kemukakan dapat dipahami dengan baik dan mudah.

Menyangkut Isi Tulisan

Tanpa kita sadari dalam menulis kita sering mengkritik kebijakan seseorang. Hal itu sebisa mungkin harus kita hindari. Budhiana mengimbau agar mengkritik kebijakan pemerintah atau organisasi manapun yang dikritik adalah kebijakannya bukan orangnya. Sebuah tulisan harus memberikan pemahaman yang mendidik dan tidak menjatuhkan pihak lain.

Tulisan juga harus mengandung perspektif baru dan tidak klise. Tulisan yang baik adalah tulisan yang sanggup menganalisis sebuah masalah dalam sudut pandang yang lain atau unik. Misalnya, hilangnya pesawat Adam Air yang selalu dilihat dari sisi negatif, mungkin kita bisa ambil sisi positifnya. Dengan kejadian itu masyarakat diimbau agar lebih berhati-hati dalam menyikapi cuaca buruk akhir-akhir ini.

Tulisan harus lebih mementingkan keragaman pandangan bukan kedalaman pandangan. Budhiana mengatakan isi tulisan juga harus fokus, tidak berbelit-belit dan tidak bercabang-cabang. Tulisan juga tidak boleh terlalu akademis atau konseptual. Kita jangan menulis dengan terlalu banyak teori tanpa menganalisis persoalan aktual.

Bagaimana jika tetap tidak dimuat? Seorang JK Rowling saja yang saat ini karyanya menjadi best seller pernah beberapa kali mengalami penolakan, apalagi dengan kita yang baru memulai. Lantas, apakah kita harus berhenti?

3 komentar:

nilna iqbal mengatakan...

Ass Luzman ... pa kabar. Wah makin rajin yah nulisnya. jangan pernah menyerah yah :)

Keep writing >>>

siti ramdayani mengatakan...

makasih banget yahh...aku jadi ad pengetahuan bagaimana menulis sebuah opini...

Dian Kurnia mengatakan...

Salam,
Bener juga tuh, sama, masalah saya juga seperti itu. Sudah beberapa kali 'ngirim' artikel opini ke beberapa media cetak harian lokal, menurut mereka masih ga jelas konteksnya. Akhirnya, ya dikembalikan "deui" (haduuUh).
Nuhun ah kanggo informasi pentingna. :)

Poskan Komentar

silakan komentarnya..
kalo gak punya blog, pilihnya name/url.. urlnya kosongin aja.. okey.. thx a lot