Cari Artikel

Rabu, Mei 07, 2008

Bisakah rakyat Indonesia tidak Ndeso?

Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture,
countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat
mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan
tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan
harapan orang yang diajak juga terkagum-kagum sama seperti dia.

Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk
menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian,
tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta
belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias ndeso.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun
ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Pengusaha tersebut bertolak dari Tokyo menggunakan kendaraan umum, sementara pejabat Indonesia yang akan dijemput menggunakan mobil dinas Kedutaan yaitu Mercedes Benz.

Selengkapnya...

0 komentar:

Poskan Komentar

silakan komentarnya..
kalo gak punya blog, pilihnya name/url.. urlnya kosongin aja.. okey.. thx a lot