Cari Artikel

Tampilkan postingan dengan label outside football. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label outside football. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juli 27, 2008

Value-Expectancy Theory

Wah..wah nggak nyangke euy.. ternyata pengunjung blog ini masih banyak, pada nemu di search engine google, padahal saya sama sekali nggak ngepromosiin blog ini.
moga bisa bermanfaat


oh yah terakhir kalo ngerasa artikel ini bermanfaat, tolong pisan yah.. klik iklannya.. sebagai tanda persahabatan.. okey.. biar sama-sama menguntungkan... thx..




Manusia pada dasarnya selalu berkomunikasi. Segala gerak-gerik, tingkah laku, dan perbuatan kita dapat dimaknai oleh orang lain. Tentunya agar dapat berkomunikasi dengan baik dan memahami lawan bicara kita, kita memerlukan teori. Dari sebuah fenomena yang ada akan lahir sebuah konsep. Kemudian dari konsep itu berkembang sebuah proposisi (pernyataan yang bisa dinilai benar atau salahnya. Lalu setelah diuji proposisi menjadi fakta; fakta menjad teori, dan akhirnya lahirlah suatu ilmu.

Apa itu teori? Teori merupakan sekumpulan pernyataan yang saling terkait, sistematis, logis, faktual, dan objektif tentang suatu fenomena tertentu yang tujuannya adalah untuk menjelaskan, memprediksi, dan mengontrol fenomena tersebut.

Lebih lanjut, teori komunikasi bertujuan untuk meningkatkan pemahaman kita tentang proses berlangsungnya suatu tindakan atau peristiwa komunikasi (communication problem solving). Dengan pemahaman yang lebih baik kita berada dalam posisi yang lebih baik untuk meramalkan dan mengontrol hasil-hasil dari tindakan komunikasi kita.

Saat ini telah berkembang 268 teori komunikasi. Jumlah ini masih mungkin bertambah mengingat masih ada teori yang butuh penelitian lebih lanjut. Teori yang akan dibahas di sini adalah value-expectancy theory, sebuah teori yang dikembangkan oleh psikolog terkemuka, Martin Fishbein dan Icek Ajzen pada awal tahun 1970-an.

A. Sejarah Teori

Teori nilai harapan (value-expectancy theory) dikemukakan oleh Dr. Martin Fishbein pada awal tahun 1970-an. Teori ini pertama kali dijelaskan dalam buku Martin Fishbein dan Icek Ijzen tahun 1975 yaitu Belief, Attitude, Intention, and Behaviour: An Introduction to Theory and Research. Penelitian teori ini juga dapat dilihati dalam disertasi Fishbein yakni A Theoretical and Empirical Investigation of the Interrelation between Belief about an Object and the Attitude toward that Object (1961, UCLA). Teori ini juga dijelaskan dalam dua artikel lainnya tahun 1962 dan 1963 dalam jurnal Human Relations. Penelitian Fishbein dituliskan oleh peneliti lain seperti Ward Edwards, Milton Rosenberg, dan John B. Watson.

Dr. Martin Fishbein adalah seorang Profesor Kehormatan dari Harry C. Coles Jr. di jurusan Komunikasi Annenberg School for Communication dan Direktur Health Communication Program (Program Komunikasi Kesehatan) di Annenberg Public Policy Center. Di samping value-expectancy theory, beliau juga penggagas theory of reasoned action. Dr. Fishbein menerbitkan 200 artikel dan bab dalam buku profesionan dan jurnal, serta mengarang dan mengedit enam buku.

Penelitian Dr. Fishbein terdiri dari teori sikap dan tindakan, komunikasi dan persuasi, prediksi dan perubahan tingkah laku. Ia meneliti di lapangan dan laboratorium terdiri dari penelitian terhadap keefektifan dari tingkah laku kesehatan. Beliau adalah pimpinan Society Consumer Psychology and the Interamerican Psychological Society.


B. Pengertian Teori

Value-expectancy theory adalah salah satu teori tentang komunikasi massa yang meneliti pengaruh penggunaan media oleh pemirsanya dilihat dari kepentingan penggunanya. Teori ini mengemukakan bahwa sikap seseorang terhadap segmen-segmen media ditentukan oleh nilai yang mereka anut dan evaluasi mereka tentang media tersebut.

Teori ini merupakan tambahan penjelasan dari teori atau pendekatan “uses and gratifications” adalah dijelaskannya teori yang mendasarkan diri pada orientasi khalayak sendiri sesuai dengan kepercayaan dan penilaiannya atau evaluasinya.Intinya, sikap kita terhadap sejumlah media akan ditentukan oleh kepercayaan tentang penilaian kita terhadap media tersebut. (Palmgreen dkk. dalam Littlejohn, 1996:345) membatasi gratification sought (pencarian kepuasan) berkaitan dengan apa yang diberikan media serta evaluasi kita terhadap isi media tersebut. Jika kita percaya bahwa film India dapat memberikan hiburan terhadap kita, dan kita menilai hiburan tersebut termasuk bagus (misalnya bersifat edukatif), maka kita akan mencari kepuasan dengan menonton film India tersebut sebagai hiburan. Itu contohnya. Juga sebaliknya, jika kita menilai film India sebaliknya dari itu, maka kita tidak akan menontonnya.

Film-film televovela dari Amerika Latin yang sekarang banyak ditayangkan oleh televisi swasta, banyak disukai oleh kaum hawa, terutama ibu-ibu rumah tangga. Itu sebuah fenomena. Dari fenomena tersebut, bisa diguga bahwa kaum hawa menilai positif kehadiran film-film tersebut. Padahal jika kita menilik alur ceritanya, banyak peristiwa budaya yang sama sekali tidak rasional dan bahkan sangat bertentangan dengan pola budaya di Indonesia. Dilihat dari aspek rasionalitas ceritanya juga sangat banyak yang aneh-aneh atau ganjil. Dramatisasinya sangat bertele-tele, dsb. Namun demikian, toh kaum hawa masih tetap menyukainya. Mungkin sebagian dari kita kaum laki-laki juga banyak yang menyukainya. Tampaknya masalah hiburan tidak selalu mempertimbangkan aspek rasionalitas dan logika cerita.

Contoh lain, bila kita percaya bahwa segmen gosip akan menghadirkan hiburan bagi kita, dan kita senang dihibur, maka kita akan memenuhi kepentingan kita dengan menonton/mendengar/ membaca acara gosip. Di pihak lain bila kita percaya bahwa bergosip itu termasuk bergunjing dan melihatnya sebagai hal yang negatif, dan kita tidak menyukainya, kita akan menghindar diri dari menonton/ mendengar/ membacanya.

Klandersman dalam value-expectancy theory nya menyatakan bahwa perilaku seseorang merupakan fungsi nilai (value) dari hasil yang diharapkan dari sebuah perbuatan. "Individual's behavior is a function of the value of expected outcomes of behavior" (Klandersman,1997,h.26). Perilaku seseorang akan menghasilkan sesuatu, semakin tinggi nilai yang diharapkan, semakin tinggi pula keinginan untuk mewujudkan perilaku tertentu.

Teori ini mengandung dua komponen yaitu nilai (value) dari tujuan yang akan dicapai dan harapan (expectancy) agar berhasil mencapai tujuan itu. Dari dua komponen tersebut oleh Keller dikembangkan menjadi empat komponen. Keempat komponen model pembelajaran itu adalah attention, relevance, confidence dan satisfaction dengan akronim ARCS (Keller dan Kopp, 1987: 289-319). Model pembelajaran ini menarik karena dikembangkan atas dasar teori-teori belajar dan pengalaman nyata para instruktur (Bohlin, 1987: 11-14).


C. Konsep Utama Teori

Value-expectation theory memiliki tiga komponen dasar yakni:

1. Individu merespon informasi baru tentang suatu hal atau tindakan dengan menghasilkan suatu keyakinan dari hal atau tindakan tersebut. Bila keyakinan sudah terbentuk, itu dapat dan seringkali berubah dengan informasi baru.

2. Setiap individu memberikan sebuah nilai (value) pada setiap sifat di mana keyakinan tersebut tergantung/berdasar.

3. Sebuah harapan (expectation) terbentuk atau termodifikasi berdasarkan hasil perhitungan antara keyakinan (beliefs) dan nilai-nilai (values)


Sebagai contoh, seorang mahasiswa menemukan bahwa seorang profesor memiliki sifat humoris. Mahasiswa tersebut memberikan nilai positif pada humor di kelas, jadi mahasiswa tersebut memiliki harapan bahwa pengalamannya dengan profesor akan positif. Ketika mahasiswa menghadiri kelas dan menemukan sang profesor humoris, mahasiswa tersebut akan memperhitungkan bahwa itu adalah kelas yang baik.

Fishbein dan Azjen (1975) memberikan persamaan untuk teori ini sebagai berikut:



Philip Palmgreen memodernisasikan teori ini dengan rumus sebagai berikut:

Gsi = ∑biei

Keterangan:

Gsi = gratification sought (pencarian kepuasan)

bi = belief (keyakinan)

ei = evaluation (evaluasi)



Penggunaan: Ketika memperoleh pengalaman dengan suatu media, kepuasan yang diperoleh akan memengaruhi keyakinan, menguatkan pola yang terlihat. Philip Palmgreen

D. Penerapan Teori

Salah satu kegunaan value-expectancy theory adalah dalam pendekatan persuasi (persuasion approaches). Berdasarkan teori ini kita mengharapkan sesuatu untuk mengontrol sikap kita (e.g. Fishbein & Ajzen, 1975; Rosenberg, 1956). Memengaruhi seseorang meliputi mengubah nilai yang mereka harapkan untuk diterima. Sebagai contoh, jika kita mengharapkan hasil yang baik dari pendapat namun seseorang meyakinkan kita bahwa pendapat tersebut tidak bagus, maka kita akan mengubah isi dari pendapat tersebut.

Ada dua penjelasan utama mengapa seseorang mengubah pendiriannya.

Konsistensi Afektif-Kognitif (Affective-Cognitive Consistency). Teori ini menyatakan bahwa pengaruh dan kesadaran kita mengenai suatu hal terdiri dari dua aspek. Affect meliputi sikap kita, bagaimana suatu hal terasa menyenangkan. Cognitions kepercayaan yang berhubungan dengan objek. Jika kita percaya konsekuensi yang baik akan didapat dari pendapat, kita akan memakai pendapat itu. Affective-Cognitive Consistency menjelaskan hukum sikap kognitif: jika kita mengubah kepercayaan seseorang tentang pendapat, sikapnya akan berubah secara otomatis dalam kesamaan tujuan dan tingkat sesuai dengan perubahan keyakinan. Sebagai contoh, kita dihadapkan pada pilihan bahwa mendapat nilai yang tinggi akan lebih sulit saat ujian akhir, kita akan mengubah kebijakan saat ujian dan lebih konsentrasi pada tugas. Sebaliknya jika kita yakin ujian berarti nilai rendah dan banyak tekanan kita akan bersikap sebaliknya.

Konsistensi kognitif tidak hanya mengubah keyakinan untuk menghasilkan perubahan pada sikap, tetapi juga menyebabkan perubahan sikap-sikap untuk menuntun perubahan keyakinan. Rosenberg (1960) membuat sebuah penelitian untuk menguji ide ini. Ia menghipnotis orang dan mengubah sikap mereka. Dia menemukan bahwa ketika sikap berubah dari senang menjadi tidak senang, individu akan memproses untuk mengubah keyakinan tentang suatu program dari baik ke buruk. Mereka melakukannya dengan lengkap. Tak ada orang yang mengatakan,”Program ini akan menghasilkan efek buruk “ Penelitian ini menunjukkan bukti meyakinkan bahwa kita mencoba untuk membuat perasaan dan keyakinan kita tentang suatu hal tetap konsisten.

Penelitian lain menemukan bahwa ketika seseorang mengajukan pendapat dan pembicara meyakinkan bahwa ada banyak konsekuensi buruk dari pendapat, individu akan mulai yakin bahwa konsekuensi baik akan terjadi sedikit, kita tak ragu bahwa hal tersebut akan menghasilkan hal baik dari hubungan sebelumnya. Penelitian juga menunjukkan menyetujui konsekuensi baik tidak sama dan tidak seefektif menyetujui konsekuensi buruk. Faktanya, pendengar menyukai pembicara yang mengatakan konsekuensi baik. Strategi dasar dalam persuasi adalah dengan meyakinkan seseorang bahwa pemikiran mereka tidak berhubungan dengan pendapat. Sebagai contoh orang tidak pernah berpikir bahwa ketika mereka mengevalusi hasil ujian itu akan menambah stress. Orang jarang berpikir mereka salah. Mereka cenderung mengubah keyakinan mereka sendiri setelah menemukan hasil buruk dari pendapat. Pernyataan bahwa hasil lebih tinggi tak akan diperoleh dari sistem baru akan kurang efektif dibandingkan memberikan ide bahwa ujian tengah semester akan lebih berat.

Ide yang sama dapat diterapkan pada seseorang yang ingin meyakinkan penerima pendapat. Penerima yakin konsekuensi buruk akan timbul. Di lain pihak pembicara yakin akan timbul konsekuensi baik. Di sini terjadi dua pendapat yang berbeda. Akan menjadi lebih baik untuk memberikan si penerima dengan fakta-fakta tentang konsekuensi baik dan membiarkan dia menerima banyak tekanan dan kemungkinan buruk. Dibandingkan dengan meyakinkan penerima bahwa tekanan tinggi tidak akan berhasil mengubah nilai ujian, pembicara harus menekankan bahwa akan terjadi hasil baik. Tentu saja orang tersebut tak perlu bertanya langsung tentang kemungkinan konsekuensi buruk. Apa yang kita katakan belum tentu strategi baik bagi pendapat sukarelawan yang menyayangkan keyakinan penerima. Dengan membiarkan sendiri si penerima mengubah keyakinannya, sebenarnya pembicara telah mengajak dalam pesan. Penerima bebas untuk tidak berbicara atau menyatakan secara tidak langsung (Infante 1975c).

Teori Pembelajaran (Learning Theory). Ini merupakan penjelasan kedua untuk persuasi dalam kerangka value-expectancy. Ide di sini ialah kita mempelajari untuk menghubungkan konsekuensi dengan pendapat, karakteristik seseorang, perlengkapan dengan objek (Cronkhite, 1969). Perasaan mendatangkan dengan sebuah konsekuensi menjadi terhubungkan dengan pendapat tersebut. Pendapat tersebut dapat diidentifikasi dalam berbagai emosi. Menyebutkan pendapat akan menimbulkan emosi yang luar biasa. Empat konsekuensi – hasil yang lebih rendah, lebih banyak tekanan, lebih banyak ujian akhir, dan sedikit kesempatan untuk meraih nilai rata-rata – dapat dikondisikan pada pendapat kita untuk mengubah kebijakan pada ujian akhir. Sikap penerima akan mewakili total dari perasaan negatif dari empat konsekuensi. Ide ini timbul dari kondisi klasik dalam psikologi. Dalam percobaan Pavlov, seekor anjing datang menanggapi bel bersamaan saat ia menanggapi bubuk daging di mulutnya, ia pun mengeluarkan air liur. Menanggapi bubuk daging yang terhubung pada bel dengan menempatkan bubuk di mulut anjing dengan segera setelah membunyikan bel. Beberapa saat kemudian, anjing tersebut mengeluarkan air liur sebagai tanggapan terhadap bel. Tak bisa dipungkiri bahwa proses ini mirip persuasi.

Dalam iklan konsekuensi terdiri dari pendapat dalam harapan terhadap reaksi orang-orang akan terkondisikan pada pendapat tersebut. Jika tercipta kondisi yang sukses, pendapat tersebut akan menghasilkan reaksi khalayak yang akan sama dengan reaksi mereka untuk menghubungkan elemen-elemen. Menyebutkan sebuah perubahan dalam kebijakan menghadapi ujian akhir memiliki efek yang sama dengan menyebutkan kemungkinan dalam kualitas lebih rendah, lebih banyak tekanan, lebih banyak soal ujian, dan sedikit kemungkinan mengubah nilai rata-rata. Pengkondisian akan memungkinkan untuk menimbulkan ketidaksenangan khalayak tanpa disertai keperluan untuk mengulang konsekuensi.

Persuasi meliputi pengkondisian perasaan baru pada pendapat dan membolehkan yang tak diinginkan sebelumnya dengan menghubungkan pada kelemahan. Tujuannya adalah untuk memusnahkan hubungan antara pendapat dan hubungan sebelumnya. Sebagai contoh seseorang mencoba seseorang untuk mengubah keyakinan kebijakan pada ujian akhir, bahwa ada tiga konsekuensi yang timbul dari pendapat tersebut: lebih sedikit tekanan pada akhir semester, lebih banyak waktu untuk melakukan aktivitas lain, dan lebih sedikit begadang. Ini merupakan konsekuensi baru yang penerima belum mempertimbangkan sebelumnya. Ide ini adalah sikap seseorang dikontrol oleh keyakinan yang terkuat atau lebih penting (Fishbein dan Ajzen, 1975). Jika seseorang meyakini khalayak tentang tiga konsekuensi baik, keyakinan baru akan menjadi seorang penerima akan lebih disadari, dan mereka didorong keyakinan yang lebih awal untuk level kesadaran yang lebih rendah. Jika penerima kurang menyadari keyakinannya, keyakinan tersebut memiliki efek yang kurang pada kesadaran penerima.

Di samping menambahkan keyakinan baru pada pemikiran penerima tentang sebuah pendapat, seseorang dapat menambah kepercayaan pada keyakinan lama. Seorang penerima yang melawan kebijakan baru ujian akhir akan memiliki keyakinan tentang konsekuensi baik seperti lebih banyak waktu luang untuk mencari pekerjaan musim panas. Tetapi keyakinan tersebut belum tentu seyakin keyakinan tentang konsekuensi buruk seperti hasil rendah dalam ujian. Strategi dilakukan untuk membuat khalayak lebih sadar akan keyakinannya, sekaligus mengurangi kesadaran pada keyakinan negatif.

Kita perlu membuat keyakinan baik lebih menjulang karena dua alasan. Pertama, pembicara dapat menyajikan fakta-fakta dan berbagai alasan untuk mendemonstrasikan mengapa konsekuensi baik akan terjadi jika pendapat itu diterapkan. Kedua, pembicara dapat menunjukkan bagaimana pentingnya konsekuensi baik akan terjadi pada penerima dan teman-temannya. Khalayak menjadi kurang sadar pada keyakinan negatif karena pemikiran akan menjadi sadar hanya dengan banyak hal pada satu waktu. Sesuai affective-cognitive consistency theory, pembicara dapat menghindari menyebutkan keyakinan negatif karena mereka akan lebih menonjol jika pembicara memikirkan tentang mereka. Sesuai dengan learning theory, keyakinan paling atas akan menentukan sikap seseorang.

E. Model-model value-expectancy theory

Ada beberapa model value-expectancy:

1. Value-expectancy model of attitudes I (Fishbein dan Ajzen, 1976)

Berdasarkan model ini seseorang memegang banyak keyakinan tentang sikap suatu objek, suatu objek terlihat memiliki banyak sifat. Menghubungkan dengan setiap sikap adalah respon yang evaluatif (contoh: sikap). Dengan proses pembelajaran, respon evaluatif menghubungkan dengan sikap suatu objek.


2. Value-expectancy theory model of attitudes II (Fishbein dan Ajzen, 1976)

Ao = (biei)

Keterangan:

Ao = attitude (sikap) terhadap objek (O)

bi = belief (keyakinan) tentang sifat objek

ei = evaluasi dari suatu sikap


Keyakinan adalah kemungkinan subjektif dari seseorang (objek) tentang sifat orang lain (contoh: Bill Clinton pembohong). Evaluasi adalah penilaian sifat berdasarkan berapa dimensi evaluasi (contoh: baik/buruk diukur dari skala 1 sampai 7)

3. Value-expectancy theory model of attitudes III (Fishbein dan Ajzen, 1976)

Sikap (attitude) seseorang merupakan penjumlahan dari produk setiap keyakinan (belief) dikali nilai evaluasinya (evaluation). Keyakinan dipegang dalam sebuah jenjang (tingkatan). Suatu sikap ditentukan dalam setiap waktu yang diberikan dengan lima sampai sembilan keyakinan yang paling menonjol dalam jenjang keyakinan seseorang.

Tipe-tipe keyakinan:

Descriptive belief berdasarkan keyakinan langsung

Inferential belief keyakinan dari keyakinan lain

Informational belief info dari sumber luar


F. Penggunaan Terbaru

Pada akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an, Fishbein dan Ajzen mengembangkan value-expectancy theory menjadi theory of reasoned action. Kemudian Ajzen menjelaskan theory of planned behavior dalam bukunya Attitudes, Personality, and Behavior (1988). Kedua teori tersebut menunjukkan prediksi dan memiliki kelemahan. Value-expectancy theory masih merupakan teori terkemuka di berbagai bidang seperti penelitian komunikasi kesehatan, pemasaran, dan ekonomi. Walaupun tidak digunakan sebanyak pada awal 1980-an, value-expectancy theory masih digunakan dalam berbagai bidang penelitian, seperti periklanan, (Shoham, Rose, & Kahle 1998; Smith & Vogt, 1995), perkembangan anak-anak (Watkinson, Dwyer, & Nielsen, 2005), pendidikan (Eklof, 2006; Ping, McBride, & Breune, 2006), komunikasi kesehatan (Purvis Cooper, Burgoon, & Roter, 2001; Ludman & Curry, 1999), dan komunikasi organisasi (Westaby, 2002).


Bagan theory of reasoned action dan theory of planned behavior dalam kerangka value-expectancy theory:


Sejak pertama kali dikemukakan pada awal tahun 1970-an, value-expectancy theory telah mengalami berbagai perkembangan. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menguji keabsahan teori ini. Teori ini dikemukakan oleh beberapa psikolog terkemuka seperti Martin Fishbein, Icek Ajzen, dan Philip Palmgreen. Maka tak heran jika latar belakang teori ini adalah psikologi, memprediksi sikap manusia terhadap objek dan tindakan.

Teori ini sangat penting untuk mengetahui expectancy (harapan), values (nilai-nilai), beliefs (keyakinan), attitude (sikap), dan juga gratification sought (pencarian kepuasan). Dalam ilmu komunikasi teori ini sangat bermanfaat khususnya dalam mengetahui sikap seseorang dan nilai-nilai yang dianut. Teori ini telah digunakan untuk mendukung berbagai teori lain dan masih digunakan saat ini dalam berbagai bidang pembelajaran.

Teori ini masih memiliki kekurangan dan membutuhkan berbagai pnelitian untuk menguji teori ini. Teori ini menggunakan ilmu psikologi sehingga tingkat subjektivitas masih bisa ditemui. Walaupun demikian teori ini memiliki banyak kekuatan dan bisa mendukung teori lainnya. Terbukti value-expectancy theory masih terus digunakan hingga saat ini.


Sabtu, Juni 14, 2008

Diet Ala Rasul

Rupanya tanpa kita sadari, dalam makanan yang kita makan sehari-hari, kita tak boleh sembarangan. Hal inilah penyebab terjadinya berbagai penyakit antara lain penyakit kencing manis, lumpuh, sakit jantung, keracunan makanan dan lain2 penyakit. Apabila anda telah mengetahui ilmu ini, tolonglah ajarkan kepada yg lainnya.

Ini pun adalah diet Rasullulah SAW kita juga. Ustaz Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasullulah tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau anda ikut diet Rasullullah ini, anda takkan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.

Jangan makan SUSU bersama DAGING

Jangan makan DAGING bersama IKAN

Jangan makan IKAN bersama SUSU

Jangan makan AYAM bersama SUSU

Jangan makan IKAN bersama TELUR

Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD

Jangan makan SUSU bersama CUKA

Jangan makan BUAH bersama SUSU CTH :- KOKTEL

CARA MAKAN

JANGAN MAKAN BUAH SETELAH MAKAN NASI , SEBALIKNYA MAKANLAH BUAH TERLEBIH DAHULU, BARU MAKAN NASI.

TIDUR 1 JAM SETELAH MAKAN TENGAH HARI.

JANGAN SESEKALI TINGGAL MAKAN MALAM . BARANG SIAPA YG TINGGAL MAKAN MALAM DIA AKAN DIMAKAN USIA DAN KOLESTEROL DALAM BADAN AKAN BERGANDA.

Nampak memang sulit.. tapi, kalau tak percaya... cobalah.................................

Pengaruhnya tidak dalam jangka pendek.... Akan berpengaruh bila kita sudah tua nanti.

Dalam kitab juga melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut.

Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama susu. karena akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-, jika dalam makanan kita ayam bercampur dengan ikan maka akan terjadi reaksi biokimia yang akan dapat merusak usus kita.

Al-Quran Juga mengajarkan kita menjaga kesehatan spt membuat

amalan antara lain:

Mandi Pagi sebelum subuh, sekurang kurangnya sejam sebelum matahari terbit. Air sejuk yang meresap kedalam badan dapat mengurangi penimbunan lemak. Kita boleh saksikan orang yang mandi pagi kebanyakan badan tak gemuk.

Rasulullah mengamalkan minum segelas air sejuk (bukan air es) setiap pagi. Mujarabnya Insya Allah jauh dari penyakit (susah mendapat sakit).

Waktu sembahyang subuh disunatkan kita bertafakur (yaitu sujud sekurang kurangnya semenit setelah membaca doa). Kita akan terhindar dari sakit kepala atau migrain. Ini terbukti oleh para ilmuwan yang membuat kajian kenapa dalam sehari perlu kita sujud. Ahli-ahli sains telah menemui beberapa milimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yg tidak dipenuhi darah. Dengan bersujud maka darah akan mengalir keruang tersebut.

Nabi juga mengajar kita makan dengan tangan dan bila habis hendaklah menjilat jari. Begitu juga ahli saintis telah menemukan bahwa enzyme banyak terkandung di celah jari jari, yaitu 10 kali ganda terdapat dalam air liur. (enzyme sejenis alat percerna makanan) Wassalam...

Sama-samalah kita mengamalkannya.......

WallahuA'lam

Sabda nabi, Ilmu itu milik Allah, barang siapa menyebarkan ilmu demi kebaikan insya Allah... Allah akan menggandakan 10 kali kepadanya.

Minggu, Mei 18, 2008

GANJA bukan bumbu penyedap di NANGGROE ACEH

Jeroan
Harga daging sapi disini, normal 60ribe, daging kambing 75ribe, tertinggi di Indonesia, menurut koran lokal SERAMBI INDONESIA.
Gulai kambing atau disebut kari kambing banyak tersedia, lengkap berisi jeroan, dengan kuah kental, bahkan kepala kambingpun ada, lezaaat. Gulai itik banyak pula, kuah kental, tak terasa amis, bisa bersaing dengan bebek peking. Hhmmm sedaap ……
Warung Padang dimana-mana ada, tentunya jeroan juga ada. Apalagi warung mie, ada disetiap sudut kota dan kampung, mie istimewanya adalah mie udang dan kepiting, wow enaks … . Tapi nasi gorengnya kurang pas rasanya, tak ada variasi, mirip nasi goreng Kalimantan, tidak digoreng dadakan. Martabak telornya tidak mengundang selera, jauh lebih nikmat rasa martabak telor/mesir khas Padang. Saudaraku……,makanan yang nikmat-nikmat itu semua bakal jadi ……. dan bau, jadi makanlah secukupnya; berhentilah sebelum kenyang dan makanlah setelah lapar, dan ingat juga masih banyak tetangga kita makan nasi garam doang ….!

Sayur
Sayuran yang paling banyak dijual adalah peucal, asal dari kata pecel barangkali, sayuran lain adalah tumis pakis, sayur lodehnya cukup kental, secara umum sayuran di warung makan tidak selalu ada atau ada dalam jumlah sedikit. Ada sayuran khas Aceh, mirip sayur lodeh, banyak macam sayuran tumplek jadi satu. Ah …. kalau sayuran tak perlu “rasa”nya yang penting vitamin, mineral dan seratnya, iya kan ?

Kopi


Kopi ternama di Banda Aceh berlabel Ulee Kareeng, di Lhokseumawe punya cabang, kopi telornya menyegarkan, di Kabupaten lainnya belum tentu ada merek tsb, karena masing-masing daerah punya warung andalan sendiri. Tetapi sebenarnya hampir semua hidangan kopi di warung-warung, nikmat rasanya karena sumber kopinya mungkin sama yaitu dari Takengon (daerah perbukitan Aceh Tengah) dan cara pengolahannya yang khas. Bila sdh terbiasa minum kopi di Aceh, cobalah minum kopi di Medan, terasa bedanya, kopi Medan terasa sedikit hambar. Tapi kopi Toraja label “Aroma” Banceuy Bandung favoritnya Hugh Brown, boss nya Ciciek – Sri Purwanti, agak susah dibanding-bandingkan segarnya.

Makanan/ kue
Waduh! kue-kue disini banyak banget variasinya dan aneh-aneh, coba lihat buku-buku luks yang beredar di toko buku kota-kota besar, makanan ringan khas Aceh tampil beda.
Saudaraku ………., kembali kepada makanan yang enak-enak dimulut, semuanya setelah dimakan bakal jadi ………dan bau, cuma nikmat beberapa menit saja.

Ganja
Bila dengar cerita dari para pendatang, katanya orang Aceh suka makan indomie pakai biji “nya”, terus sayur dicampur daun ”nya”, begitu juga kopi dicampur godokan”nya” itukan orang yang memang pengen teler karena frustasi! Jadi bukan untuk mendapatkan rasa nikmat(!). Semua pernah kucoba, hasilnya cuma memperpanjang lamanya tidur dan menjadi malas bangun. Napsu makan nambah, emang iya. Nah kalo udah gini, tahajud bisa terlewat dan subuh kesiangan, tetapi tidak mempercepat mulai tidur, justru awalnya kepale pusing, jelas sudah, mengkonsumsinya menjadi “HARAM”, cepat-cepatlah tobat keburu mati.
Kata orang gampong, sesekali sewaktu acara kenduri ada juga acara rokok bareng sesama orang muda, tapi nggak sampai mabok ancur-ancuran. Orang luar Aceh aja yang tidak bisa kendalikan diri. Selama 6 bulan di Aceh tak pernah ada berita tentang tertangkapnya orang mabok oleh Polisi Syariah gara-gara isap ganja. Maka pantas aja cukup banyak orang disini yang berpendapat mengisap ganja untuk orang Aceh hukumnya makruh. Wallahu a’lam

Rasa sayur nggak ada yang aneh, biasa-biasa aja, pernah dicoba sendiri mencampur daun”nya”, tapi rasanya malah nggak karuan. Apakah formulanya nggak tepat, nggak taulah ? Jadi kita sebaiknya tidak terlalu cepat percaya kata orang, ganja menjadi bumbu sehari-hari di Aceh.

Kopipun begitu, rasa kopi Aceh ya murni kopi nggak dicampur ganja, campuran bubuk kopi yang dioseng bareng, paling-paling dicampur madu, contohnya ada di kedai kopi Tanjung Bireuen, atau dicampur susu, contohnya ada di kedai kopi King Langsa, atau dicampur panili ada, di kedai Kopi Lhokseumawe. Pernah dicoba mencampur sendiri dgn godokan daun”nya” tapi rasanya malah nggak karuan. Jadi kita sebaiknya tidak terlalu cepat percaya kata orang, ganja menjadi campuran kopi sehingga menjadi enak dan mengantuk.

Daun Temurui
Bentuk daun temurui ada yang lonjong agak besar dan ada pula yang kecil-kecil lonjong lancip 1,5 x 4cm, kurang lebih ada yang mirip daun ganja, tapi agak keras, sangat mudah tumbuh, tinggi pohon bisa mencapai tiga/empat meter, tetapi setinggi satu meterpun, daun sudah bisa dipetik dan digunakan, kira-kira 20 helai dapat mengharumkan 1 kilo daging kambing/itik/ayam. Bila dioseng dengan minyak sayur, daun akan mengering seperti kerupuk dan sangat cocok bercampur ayam goreng sehingga menjadi hidangan Khas Aceh yang disebut Ayam Tangkap, INI PERLU DICATAT.
Apapun masakan berkuah santan dan amis bila dimasak bercampur daun temurui akan menjadi harum dan segar. Propinsi lain belum tentu ada daun Temurui (!)

Sobat Hanafi berasal dari Aceh, mungkin lebih pas ceritakan tentang warung dengan hidangan ”khusus”, katanya ada di Banda Aceh.
Terima kasih kepada teman-teman dan anak istriku yang mau baca cerita pengalaman alakadarnya ini.


Wassalam
aguswahyudiono


Terimakasih rekan Agus. Penggambarannya sangat lengkap.
Kopi.
Saya dan keluarga di Banda Aceh biasa ngolah biji kopi jadi bubuk.
Selama ini kami tidak menambah apa2. hanya Biji Kopi Tok. Kuncinya adalah
pemilihan Bijinya... selain jenis juga kadar airnya. Hasilnya
Alhamdulillah warungku lumayan rame. Bubuknyapun banyak diambil sama penjual
Kopi yang lain. Orang Aceh di jkt juga banyak minta dibawain bubuk tsb.
Kalau sempat mampir diwarung Ayahku di Beurawe, Banda Aceh. Tanya aja
Kopi Beurawe. Kok Jadi promosi nih....maaf.
Daun Temurui
Kalau ada yg perlu dirumahku (Jkt -Lebak Bulus) ada. Suka dicampur ke
gulai ikan, selain wangi, gurih juga hilangin amis. Tumbuhnya mudah,
tinggal stek aja. Potong, colokin ketanah tinggal disiram...insyaallah
tumbuh.
Ganja.
Waktu smp dulu dijual bebas sama penjual tembakau. katanya biar lebih
sedap. Walaupun mudah, tidak banyak yg jadi pecandu ganja.
Utk masakan lebih kearah mitos... memang bisa sebagai penyedap kalau
dipakai sedikit dalam memasak, terutama bisa membuat daging lebih
empuk seperti efek dibungkus daun pepaya. Seperti kata rekan Agus, kalau
kebanyakan rasanya jadi tidak keruan.
Restoran Medan baru Krekot Bunder Jkt menyajikan masakan aceh, salah
satu menu namanya "Asam Ganja". Tapi jg harap ada komponen ganja
disitu...
Wass
Hanafi - EL77, T09, M03


Kalau yang cerita adalah orang yang mengalaminya, khan asyik.
Oooh, daun itu namanya daun Temurui... Ada nggak, yah, di daerah lain ?

Nuhun, Kang Agus..

salam,

wa

Jumat, Mei 16, 2008

Important INFO for all Muslims

Assalamualaikum wr.wb.
Request for all Muslims:
Don't say "mosque" but say "Masjid" coz Islam people has found that Mosque=mosquitos.
Don't write "Mecca" write correctly "Makkah" coz Mecca= house of wines.
Don't write "Mohd" write completely as "Muhammad" coz Mohd=the dog with big mouth.
Don't write "4JJI" write "ALLAH SWT" coz 4JJI= for Judas, Jesus, Isa Almasih.
If you want to cut "Assalamualaikum" say "Asslm" not "Ass" coz Ass=donkey.
Please forward this to more Muslims. THX.

Rabu, Mei 07, 2008

Bisakah rakyat Indonesia tidak Ndeso?

Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture,
countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat
mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan
tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan
harapan orang yang diajak juga terkagum-kagum sama seperti dia.

Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk
menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian,
tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta
belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias ndeso.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun
ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Pengusaha tersebut bertolak dari Tokyo menggunakan kendaraan umum, sementara pejabat Indonesia yang akan dijemput menggunakan mobil dinas Kedutaan yaitu Mercedes Benz.

Selengkapnya...

Rabu, April 09, 2008

Titanic, Liga Champions, dan ...

Belajar dari Musibah Titanic

Tahun 2007 lalu, Indonesia ditimpa dengan berbagai musibah. Dari mulai jatuhnya pesawat Adam Air, tenggelamnya KM Senopati, terbakar dan tenggelamnya KM Levina I, dan terbakarnya pesawat Garuda. selengkapnya ...

Rabu, Maret 26, 2008

HAT-TRICK!!

Hah, hat-trick? Aku kan bukan pemaen bola, pengamat ajah. HAT itu artinya topi. Trick yah trik, cara-cara. Berarti hat-trick tuh artinya mencetak 3 gol dalam 1 pertandingan (lho kok ga nyambung)
Pemain terakhir yang mencetak hat-trick adalah Mikael Forssell saat Birmingham menghadapi Tottenham bulan Maret 2008.
di final Piala Dunia 1966 Geoff Hurst mencetak hat-trick ke gawang Jerman Barat.

Geoff Hurst mencetak hat-trick di final Piala Dunia 1966


Namun, belakangan kata hat-trick memiliki makna luas. Klub yang meraih 3 kemenangan beruntun disebut hat-trick kemenangan. Top skor 3 kali berturut-turut disebut hat-trick gelar top skor. Juara tiga kali berturut-turut:hat-trick juara.
Punya istri 3 kali berturut-turut, hat-trick punya istri (lho..???)
kalo ga salah temennya sponge bob namanya hat-trick yah..? (eh patrick deng)
Yang jelas makna hat-trick tuh meraih sesuatu yang sama 3 kali berturut-turut. DAN biasanya sih kesenangan..

Kalo aku HAT-TRICK naon atuh??
Hiks...hiks... aku mah hat-trick kehilangan dompet. Aduh mani sedih pisan... (tapi ga berturut-turut, cuman kan dompet lagi, dompet deui, aku lagi, aku deui)
Waktu dulu uang di dompetku diambil ama si X, dompetna sih aya. Trus pas dompetku udah berisi lagih (beberapa bulan kemudian) giliran si Y yang ngambil my money di dompetku..
waktu terus bergulir. Akhirnya aku pun mencetak HAT-TRICK!! Dompetku hilang untuk ketiga kalinya!! hiks..hiks.. v_v

SENIN, 24 maret 2008 kisah sedih itu terjadi. Saat di pasar uber dompetku masih ada. Aku sempet bayar parkir ke tukang parkir.
Di rumah.. hmmm.. ga tau yah. Baru sadar tuh pas mau ngambil duit di dompet. Hah dompetku mana yah. Cari-cari, kukurilingan, teu aya. Akhirnya divonis dompetku hilang..

UNTUNG ajah kartu-kartunya mah ada di tempat terpisah. JADINYA ga ikut ilang. Cuman .. duitku 80ribu sekian.. koleksi kartu bioskopku, karti LIA, kartu video ezy, kartu PIALA DUNIA...huhuhu..
INNALILLAHI wa inna ilaihi raajiuun.. Allahumma adzirni fi musibati wahlufli khairuminha
(YA ALLAH, berikanlah ganjaran atas musibah ini, dan mudah-mudahan Engkau menggantinya dengan yang lebih baik. Aaamiin)

DULU mah dompetku selalu kembali. Uangnya sih nggak. Aku pun masih berharap dompetku kembali.. Soalnya ada koleksi tiket bioskop nih. Susah payah ngumpulin.. hiks..hiks... v_v

Oh iya Inter kalah yah ma Juve. Tenang, masih kesatu. Apalagi ada kabar musim depan Jose Mourinho bakal melatih Inter. Tapi menurutku Mourinho juga belum tentu sukses di Inter. Di chelsea juga ia gagal membwa timnya menjadi jura Liga Champions padahal pas di Porto mah juara. Yah apa pun yang terjadi, FORZA LA BENEAMATA!!

Minggu, Maret 23, 2008

Surat Pembacaku

Aku udah sering ngirim tulisan. Harapannya sih pingin dimuat di rubrik artikel biar dapet duit, tapi yah apa daya tangan tak sampai. Bisa masuknya ke surat pembaca ajah euy. Kalo yang di Tabloid Soccer sih emang hobi, beda kalo yang dimuat di Media Indonesia. Waktu itu teh ada mata kuliah dasar-dasar penulisan (daspen) dapet tambahan nilai kalo dimuat. Ya wes, biar gampang buat surat pembaca ajah. Buatnya ngasal padahal, malah dimuat. Sampai dateng segala yang dari BNI ke rumah euy…

Ini dia surat pembacaku yang dimuat di Media Indonesia:

Mendapat Uang Robek dari ATM

Pada Sabtu , 10 Maret 2007 pukul 10.00 WIB, saya mengambil uang di ATM BNI Griya Ujung Berung. ATM tersebut menggunakan uang pecahan Rp 100ribu. Saat itu saya mengambil uang sejumlah Rp300ribu. Saya tidak memeriksa terlebih dahulu uang tersebut karena saya yakin uang tersebut dalam kondisi bagus.

Beberapa saat kemudian, ketika hendak berbelanja saya baru menyadari salah satu dari uang tersebut bagian kirinya robek (terpotong sekitar 1 cm). Saya tidak tahu apakah uang tersebut laku atau tidak. Namun, karena ragu saya urung menggunakan uang itu.

Saya pun merasa bingung. Untuk menukarnya saya tidak tahu bagaimana caranya. Saya mendapatkan uang tersebut dari ATM, tentunya tidak ada yang dapat dijadikan bukti untuk menukar uang tersebut. Saya mohon penjelasan dari pihak BNI mengapa kejadian tersebut bisa terjadi. Saya juga mohon penjelasan apakah uang seperti itu masih bisa laku dan apa saja yang membuat uang tidak laku. Saya mohon penjelasannya agar tidak ada lagi pihak yang merasa bingung seperti saya.

(dimuat di Media Indonesia, Kamis 5 April 2007)

Uang Robek di ATM

Saya ingin mengklarifikasi surat saya yang dimuat di harian Media Indonesia Kamis(5/4) tentang uang robek dari ATM. Jumat (6/4), pihak BNI telah datang ke rumah saya dan menjelaskan semuanya.

Ternyata uang robek yang saya peroleh bukan dari BNI, melainkan dari bank lain. ATM BNI di Griya Ujung Berung bukanlah menggunakan pecahan Rp100ribu melainkan Rp50 ribu. Pihak BNI juga menjelaskan uang tersebut masih laku asalkan nomor serinya tidak robek. Jika pun itu dari BNI sebenarnya masih bisa ditukarkan.

Saya mengucapkan terima kasih kepada harian Media Indonesia dan pihak BNI sehingga masalah ini dapat terselesaikan.

(dimuat di Media Indonesia, Kamis 12 April 2007)

Uang Tilang Rp85 Ribu?

Saat ini saya rasa banyak sekali polisi yang sering bertindak seenaknya, terutama yang berkaitan dengan pelanggaran lalu lintas. Polisi terkesan sering kali mencari-cari kesalahan pengendara, kemudian dengan seenaknya pula meminta denda yang tidak masuk akal. Pengalaman saya ini dapat dijadikan contoh.

Suatu hari saya bersama saudara saya mengendarai motor dan melewati perempatan di Jalan Riau. Karena jarang sekali melewati Jalan Riau, saya tidak tahu kalau di sana ada lampu lalu litas. Tidak mengherankan ketika lampu merah menyala, saya terus jalan. Saya tidak memerhatikan ada lampu merah di depan saya. Kebetulan saat itu tidak ada satu pun kendaraan, saya pun tidak sengaja menerobos lampu merah.

Apes bagi saya, di sana ada polisi yang berjaga. Polisi itu pun langsung berkata, “Anda harus membayar 85 ribu karena melanggar rambu-rambu!” Selain itu polisi itu pun mempertanyakan knalpot saya. Padahal knalpot saya memang seperti itu dan tidak diapa-apakan. Kemudian, polisi itu menjelaskan uang itu bisa langsung dibayar, lewat ATM BRI, atau sidang. Saya sudah meminta keringanan denda. Tapi polisi itu tetap bersikukuh, menurutnya itu sudah ada undang-undangnya. Setelah melalui perdebatan sengit, saya pun mengalah. Saya membayarkan uang tersebut.

Saya masih merasa bingung mengapa dendanya bisa setinggi itu. Orang lain pernah melakukan hal serupa, namun dendanya hanya Rp20 ribu, terlebih kesalahan yang saya lakukan tergolong ringan dan tidak disengaja. Mobil saja biasanya hanya Rp50 ribu. Apalagi saya juga memiliki SIM dan STNK.

Menurut saya perlu diadakan sosialisasi oleh polisi kepada masyarakat agar masyarakat mengetahui besarnya denda dari setiap pelanggaran agar tidak ada lagi polisi yang “seenaknya” menetapkan besaran denda.

(dimuat di Media Indonesia, Selasa 12 Juni 2007)

Kamis, Maret 20, 2008

Cara Menerbitkan Buku

(wow, nggak nyangka artikel ini banyak yang ngeakses euy.. soalnya emang di search google muncul di halaman pertama.. yah mudah-mudahan bisa bermanfaat.)

Banyak di antara kita yang sangat gemar menulis. Banyak yang sebenarnya ingin mempublikasikan karyanya kepada umum. Tentu dengan cara menerbitkan buku tersebut. Namun sayangnya banyak yang kurang memahami bagaimana langkah-langkah untuk menerbitkan buku.
Hal-hal apa saja yang harus diketahui jika seseorang ingin menerbitkan buku? Kami mencoba membeberkan hal-hal yang perlu diketahui untuk menerbitkan buku. Ini dia …!

A. Langkah Awal
Jika kita memiliki buku yang sudah siap diterbitkan tentunya kita harus mengetahui langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan untuk menerbitkan buku tersebut. Secara garis besar ada dua alternatif untuk menerbitkan buku.
1. Menyerahkan naskah kita ke penerbit. Jadi, buku kita akan diterbitkan oleh mereka.
2. Menerbitkan sendiri (self publishing). Kelebihannya, seseorang bisa bebas menerbitkan apa saja. Kelemahannya, soal-soal lain terkait dengan penerbitan buku seperti pemasaran, promosi, administrasi, cetak-ulang jika laku, dll. menjadi tidak terkendalikan.Terbit perdana biasanya (untuk ukuran normal) 3.000 eksemplar. Cara menjual dan memasarkannya jelas perlu bantuan orang lain, tidak bisa dilakukan sendiri. Terkait dengan penjualan, kita harus berhubungan dengan distributor, agen, kemudian toko-toko buku. Terkait dengan pemasaran, kita harus berhubungan dengan pameran buku dan sarana-sarana promosi


B. Mengirim Naskah Ke Penerbit

Tampaknya mengirim naskah ke penerbit memang lebih mudah dilakukan. Umumnya hampir semua penulis menempuh jalur ini. Dengan mengirimkan naskah kita ke penerbit seluruh biaya produksi akan ditanggung sepenuhnya oleh penerbit. Kita tidak perlu memikirkan biaya percetakan, distribusi, promosi, dan sebagainya. Yang harus kita lakukan hanyalah meyakinkan penerbit bahwa buku kita layak untuk diterbitkan.

Untuk mengirim naskah ke penerbit tentunya kita harus menghubungi penerbit terlebih dahulu. Yang pertama kita lakukan adalah mencari alamat penerbit. Jika kita ingin menerbitkan novel remaja atau teenlit belilah buku dari berbagai penerbit seperti Gramedia, Gagasmedia, Puspa Swara dan sebagainya. Di dalam buku tersebut pasti ada alamat penerbitnya. Kita bisa mencatat nomor teleponnya kemudian menghubungi penerbit tersebut.
Atau jika kita malas menghubungi penerbit kita bisa coba melalui email. Biasanya penerbit sekarang punya email. Kalau alamat email tak ada di buku yang mereka terbitkan coba cari tahu. Agar email mendapat jawaban dari orang yang tepat, sebaiknya gunakanlah email pribadi dari si editor, bukan email umum yang dibaca oleh entah siapa. Misal email pribadi editor Mizan Learning Centre, Hernowo adalah hernowo@mizanlc.com
Carilah alamat email pribadi si editor, sapalah ia dengan bahasa sopan dan personal. Insya Allah ia dengan senang hati akan menjawab pertanyaan kita.

C.Mengetahui Karakter Penerbit

Hal yang tak boleh dilupakan jika kita mengirim naskah ke penerbit adalah mempelajari karakter penerbit tersebut. Hal ini sangat penting diketahui karena setiap penerbit memiliki karakter yang berbeda-beda. Walaupun Gagasmedia dan Gramedia sama-sama menerbitkan teenlit, pasti ada karakter yang berbeda pada buku-buku terbitan mereka.
Sebagai contoh MQS Publishing menginginkan buku-buku terbitan mereka tidak bertentangan dengan keislaman, gagasan orisinal dan menarik atau bentuk lain gagasan yang lebih inovatif, ditulis dengan bahasa yang gamblang atau mudah dicerna serta dinalar dan terutama marketable.(www.pembelajar.com)

Nah, sudah jelas kan setiap penerbit memiliki selera yang berbeda-beda. Jika kita mengirim buku bergaya metropolis dan hedonis ke MQS tentu akan ditolak mentah-mentah tapi mungkin berbeda jika kita mengirimkannya kepada penerbit lain.
Untuk itulah sebelum mengirim naskah kepada suatu penerbit, kita harus mengetahui terlebih dahulu karakter dari penerbit tersebut. Tujuannya jelas, agar naskah kita terkirim kepada penerbit yang tepat.

Jika naskah kita ditolak alasannya tentu bukan karena naskah yang tidak sesuai dengan selera serta misi dan visi penerbit. Jika memang ini alasannya kita tidak perlu sedih dan kecewa. Karena masih banyak penerbit lain yang memiliki selera serta visi dan misi yang sama dengan kita.

Bagaimana mengetahui selera penerbit? Ada banyak caranya. Cara yang paling ampuh tentu saja dengan membaca buku-buku yang mereka terbitkan. Dari sana biasanya kita akan mendapat gambaran yang memadai.

Atau kita bisa juga bertanya kepada penulis atau siapa saja yang sudah mengenal karakter penerbit. Saat ini ada banyak milis penulisan yang dapat digunakan untuk mencari informasi seperti ini.

D. Melihat Potensi Pasar

Setiap penerbit tentunya memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap buku yang akan mereka terbitkan. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya jika naskah kita ditolak di suatu penerbit bukan berarti tulisan kita jelek. Bisa saja karena tidak sesuai dengan visi dan misi mereka.

Secara umum, sebuah naskah ditolak karena naskah tersebut diprediksi tidak laku, temanya tidak diminati pasar. Alasan lain karena naskah tersebut ditulis dengan cara yang tidak tertata sehingga membutuhkan pengolahan di redaksi yang sangat sulit.

Bagaimana dengan peluang penulis pemula? Apakah penerbit lebih menyukai tulisan yang pemula atau yang lebih ternama?

Sebagai gambaran, berikut adalah kebijakan yang diterapkan oleh penerbit Andi Publisher, Yogyakarta:

- Editorial (kualitas naskah dari segi bahasa, EYD, dst) = 10 %

- Peluang potensi pasar = 50 %

- Keilmuan (khususnya untuk naskah nonfiksi) = 30 %

- Reputasi penulis = 10%

Jadi jelas suatu penerbit akan menolak atau menerbitkan suatu naskah bergantung pada menarik tidaknya naskah itu. Saat ini banyak penulis pemula yang tak dikenal melejit gara-gara bukunya dikemas dengan judul yang unik dan menarik perhatian orang. Misalnya, Jangan Jadi Orang Gajian Seumur Hidup. Ada pengarang yang sebelumnya tak dikenal yang melejit gara-gara punya komunitas, ada juga yang memang menerbitkan sebuah karya yang lain daripada yang lain. Pada tahun 2005, beberapa penulis novel remaja (serial "teenlit"), tiba-tiba bukunya sangat laku.

Biasanya buku-buku yang diterbitkan oleh penulis pemula adalah buku-buku fiksi. Hal ini sangat wajar karena buku fiksi lebih mudah dijual dan pasarnya lebih besar daripada nonfiksi. Sebenarnya penulis pemula boleh saja menerbitkan buku nonfiksi karena memang tidak ada larangan dalam berkarya. Hanya biasanya mereka mempertimbangkan laku-tidaknya. Karena menulis buku –baik fiksi maupun nonfiksi- tidak mudah.

Jadi, penerbit dalam menerbitkan naskahnya sangat melihat potensi pasar atau tren yang sedang berkembang. Masalah tren ini memang sangat cepat berubah. Agak sulit meramal tren untuk masa sekarang karena perubahan begitu sangat cepat. Kalau kita amati tahun 2006, novel masih mendominasi, terutama yang kontroversial model Da Vinci Code atau novel yang mengisahkan "kelainan" (seperti 24 Wajah Billy). Buku agama juga masih memiliki pasar, terutama yang terkait dengan terapi, kemukjizatan, atau penyibakan misteri.

Lantas, tentu, buku model Detik-Detik Menentukan karya Pak Habibie juga masih
akan laku jika seorang tokoh atau siapa saja bisa menguak hal-hal yang
membuat orang penasaran.

Sebuah penerbit yang jeli dalam melihat potensi pasar dapat menghasilkan buku yang kita kenal dengan sebutan best seller. Sebenarnya apa kriteria buku dikatakan best seller? Mengapa saat ini banyak penerbit yang mengklaim bukunya sebagai best seller?
Hal ini sangat wajar karena menurut kesepakatan buku yang terjual 7000 eksemplar sebelum setahun sudah bisa dikatakan sebagai best seller.


E. Kelengkapan Naskah
Setelah kita tahu akan mengirim naskah ke penerbit mana langkah selanjutnya tentu saja mengirimkan naskah tersebut. Tapi sebelum kita mengirimkan naskah kita harus tahu kelengkapan apa saja yang harus kita kirim pada penerbit.

Untuk Naskah Novel, yang harus dikirim adalah:
1. Naskah novel secara utuh. Jadi, jangan hanya mengirim bab 1 atau daftar isinya saja.
2. Sinopsis cerita. Ini sangat penting agar penerbit memiliki gambaran yang jelas mengenai isi novel kita sebelum mereka membacanya.
3. Surat pengantar. Memang ini tidak wajib, tapi diperlukan sebagai sopan santun terhadap penerbit.
4. Biodata penulis. Biasanya biodata ini dibagi menjadi dua jenis, dan sebaiknya kedua-duanya kita kirim.

Jenis pertama adalah biodata yang tujuannya sebagai arsip si penerbit saja, bukan untuk dipublikasikan. Pada biodata ini, kita harus mencantumkan nama asli, alamat lengkap, nomor telepon, nomor rekening bank, dan sejumlah data penting lainnya., Data seperti ini diperlukan untuk kepentingan administrasi dan komunikasi antara anda dengan si penerbit.

Jenis kedua adalah biodata yang isinya lebih kurang sama dengan biodata penulis yang biasa kita temukan pada buku-buku yang telah diterbitkan. Biodata inilah yang nantinya akan dimuat pada buku kita, jika diterbitkan.

5. Segmentasi naskah. Ini digunakan sebagai bahan pertimbangan tim marketing di penerbit tersebut. Segmentasi naskah cukup diuraikan dalam kalimat singkat, misalnya:
Novel ini ditulis dengan bahasa sehari-hari, para tokohnya adalah anak SMA dan mahasiswa. Novel ditujukan bagi remaja usia 12-20 tahun yang beragama Islam.

6. Karakter para tokoh. Ini digunakan untuk membantu ilustrator dalam membuat gambar-gambar dalam novel kita.

Perlu diketahui, naskah kita cukup diketik dengan format biasa di MS Word. Masalah desain dan lain sebagainya akan ditangani oleh penerbit. Bagaimana dengan buku komik? Ada penulis yang bisa menggambar, jadi gambar dan naskah ditulis sendiri. Ada juga yang diserahkan ke ilustrator, penulis hanya menulis naskahnya. Jika ada pembagian honor, biasanya penulis yang membayar ilustrator. Bisa juga diadakan kerja sama dalam bentuk royalti.

Sedangkan Untuk Kumpulan Cerpen, kelengkapan naskah tak jauh beda dengan novel. Yang tidak wajib kita sertakan hanyalah nomor 2 (sinopsis) dan 6 (karakter para tokoh).

Untuk Naskah Nonfiksi, hampir sama dengan fiksi. Namun, untuk naskah nonfiksi kita bisa mengirim daftar isi saja tidak perlu mengirim naskahnya secara utuh. Hal itu karena sebuah penerbit dapat mengetahui gambaran isi dari naskah nonfiksi hanya dengan membaca daftar isinya. Kita juga bisa mengirim bab satu atau mungkin sinopsisnya saja.

Memang tidak ada salahnya jika kita mengirim naskah yang utuh dan siap diterbitkan. Semuanya tergantung pada keputusan dan juga kebijakan penerbit tentunya.

Pada naskah nonfiksi cukup penting bagi kita untuk menyertakan sebuah halaman yang berisi:

- konsep utama buku kita

- tujuan penulisan buku tersebut

- misi dan visi apa yang anda emban di dalam buku ini.

- apa keunggulan utama dari buku ini.

- jika buku kita punya tema yang mirip dengan buku-buku lain yang sudah terbit, ceritakan apa keunggulan buku kita dibanding buku-buku tersebut.

Kita dapat menceritakan semua poin ini di dalam satu atau dua halaman kuarto. Ini berfungsi sebagai bahan pertimbangan si penerbit untuk menerima atau menolak naskah kita.

Setelah merasa naskah kita lengkap, tentunya kita akan mengirimnya ke penerbit. Kita bisa mengirimkannya lewat pos atau mungkin lewat e-mail. Mana yang lebih baik? Memang saat ini mengirim lewat e-mail akan jauh lebih praktis. Namun menurut Hernowo, CEO Mizan Learning Centre, lebih baik mengirim lewat pos karena memudahkan penerbit untuk menilainya meski cukup merepotkan penulis.


F. Masa Tunggu dan Proses Penerbitan


Setelah naskah kita dikirimkan ke penerbit, kita menunggu naskah kita untuk diterbitkan. Berapa lama naskah kita akan diterbitkan? Bergantung konteksnya, apakah saatnya tepat atau tidak. Biasanya kalau sebuah tema sedang ramai-ramainya dibicarakan masyarakat dan tema itu cocok dengan buku yang akan diterbitkan saatnyalah buku itu diterbitkan. Ada juga buku yang membentuk opini atau lingkungan sehingga bisa diterbitkan kapan pun.Jadi jangan heran jika satu bulan itu sudah bisa dikatakan jangka waktu yang sangat cepat.

Bagaimana prosedur dalam sebuah penerbitan? Setelah menerima naskah kita, penerbit akan menyerahkan pada editor yang berkompeten. Jika naskah kita adalah buku keagamaan, maka akan diserakan pada editor yang menangani buku keagamaan.

Nah, si editor akan membaca naskah kita. Biasanya ia tidak bekerja sendirian, ada tim yang bertugas untuk menyeleksi naskah yang masuk. Tim yang terdiri dari editor (bertugas mempertimbangkan naskah dari segi bahasa, bobot tulisan), staf marketing (mempertimbangkah apakah naskah memiliki nilai jual tinggi), dan beberapa staf lainnya.
Ketika naskah kita masih dalam proses seleksi, kita boleh menanyakan pada penerbit akan berapa lama kita harus menunggu. Penerbit yang baik tentunya akan memberikan jawaban yang pasti. Jika sudah begini, tentunya kita akan merasa lebih tenang karena sudah memiliki gambaran sampai berapa lama harus menunggu.

Setelah naskah kita sudah siap untuk diterbitkan, maka proses penerbitan pun dimulai. Hal yang pertama dilakukan adalah editing, editor akan mengedit naskah kita, memperbaiki bahasanya, dan seterusnya.

Selanjutnya desainer akan mendesain buku kita sebagus dan semenarik mungkin. Kemudian, ilustrator akan membuatkan cover yang bagus untuk naskah kita termasuk gambar-gambar dalam naskah jika diperlukan. Setelah semua proses selesai, maka naskah kita siap untuk dicetak.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan proses pracetak, dalam keadaan normal, adalah sekitar 1 atau 2 bulan. Jika keadaan tidak normal karena terjadi masalah atau kendala waktu yang diperlukan bisa lebih lama lagi.

Kita sebagai penulis sangat dianjurkan untuk terlibat dalam proses penerbitan. Kita bisa memberikan masukan mengenai desain buku, cover, dan sebagainya yang berhubungan dengan buku kita. Tujuannya agar buku yang diterbitkan nantinya sesuai dengan keinginan kedua belah pihak.

Sebelum naskah kita dicetak ada proses yang dinamakan proof reading. Penerbit akan mencetak satu eksemplar buku kita (dengan printer biasa) kemudian kita dipersilakan untuk mengoreksi naskah kita, siapa tahu ada yang salah ketik, dsb. Jika yakin tidak ada yang salah kita serahkan naskah tersebut ke penerbit. Mereka akan mulai mencetaknya.

Waktu yang normal untuk proses pencetakan adalah sekitar tiga minggu. Setelah naskah kita selesai dicetak, maka siap didistribusikan dan dijual kepada umum.
Bagian distribusi dan pemasaran jelas berbeda dengan bagian redaksi, misalnya. Bagian distribusi, intinya, adalah menyebar buku ke banyak tempat dan mendeteksi di mana sebuah buku mendapatkan konsumen terbesar.

Pemasaran berbeda dengan distribusi. Pemasaran biasanya dipadankan dengan
marketing, sementara distribusi lebih ke penjualan. Marketing lebih ke penyusunan strategi dan biasanya bekerja sama dengan bagian promosi.

Kiat-kiat mempromosikan buku intinya adalah bagaimana memberitahukan ke
pelanggan bahwa sebuah buku itu menarik untuk dibaca dan bermanfaat.
G. Seputar Royalti

Di dalam penerbitan buku honor yang kita terima dari penerbit biasa disebut royalti. Namun sebelum memutuskan sistem royalti yang akan diterima oleh penulis, penerbit akan menentukan terlebih dahulu harga jual buku tersebut. Bagaimana penerbit menentukan harga jual buku?

Harga buku biasanya ditentukan dua biaya-utama oleh biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel. Yang tetap meliputi, misalnya, biaya desain, setting, dan juga harga naskah (jika dibeli tanpa royalti).

Variable cost misalnya kertas.Dari seluruh biaya tersebut, kasarnya, kemudian dikalikan 4 atau 5. Itulah harga jual buku.

Nah, setelah penerbit menentukan harga jual buku, penerbit dan penulis akan mendiskusikan sistem royalti mana yang akan digunakan. Dilihat dari sistem pembayarannya ada dua jenis royalti yang biasa digunakan oleh penerbit:


1. Beli Putus

Pada sistem ini jika buku akan diterbitkan, penerbit akan membeli buku kita dan dibayar di muka. Misalnya, Rp6juta. Maka inilah harga dari buku kita. Selanjutnya kita tidak mendapat royalti apapun.

Sistem ini sangat baik digunakan jika kita mengirim naskah ke penerbit baru yang belum jelas reputasinya. Posisi kita akan sangat aman di sini karena tak perlu berurusan lama dengan penerbit.

Sebaliknya sistem beli putus juga memiliki kelemahan. Jika buku kita menjadi best seller, penerbit akan mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar dari harga buku kita. Kita cukup rugi namun tak bisa protes apapun.

Sistem beli putus ini bisa berlaku seumur hidup dan bisa juga berlaku dalam jangka waktu tertentu. Misalnya buku dibeli Rp15 juta untuk jangka waktu tujuh tahun. Setelah masa tujuh tahun berakhir kita bisa menerbitkan kembali buku tersebut di penerbit lain.

Biasanya penerbit tidak bersedia menggunakan sistem ini untuk penulis pemula atau buku-buku yang tidak terlalu laku. Bagi mereka sistem ini memiliki risiko tinggi karena belum tentu laku di pasaran. Kalau penulisnya terkenal dan yakin bukunya akan laku di pasaran penerbit akan dengan senang hati menggunakan sistem beli putus.

2. Royalti Berkala
Sistem lain yang biasa digunakan adalah sistem royalti berkala.

Sebagai contoh:
Zlatan menerbitkan buku di penerbit CDE dan dicetak 3.000 eksemplar. Harga jual buku adalah Rp25000,00.

Kalau buku ini laku semua penerbit akan menerima uang penjualan sebesar 3000 X Rp25.000 = Rp75.000.000,00

Misalnya Zlatan mendapat royalti 10 persen dari total penjualan = Rp75.000.000,00 X 10% = Rp7.500.000,00
(royalti yang diterima bervariasi sesuai kesepakatan penerbit dan penulis, dari 5 hingga 15 %. Untuk memudakan di sini digunakan 10 persen)

Royalti Zlatan tidak diterima sekaligus. Ketika pertama terbit ia mendapat royalti Rp750.000,00.
(Angka di sini hanya contoh, biasanya penerbit mempunyai perhitungan tersendiri untuk uang muka royalti)

Penerbit CDE masih memiliki utang kepada Zlatan sebesar Rp6.750.000,00. Sisa ini akan dicicil secara berkala misalnya 5 bulan sekali.

Misalnya selama 5 bulan pertama buku Zlatan terjual 1.500 eksemplar.
Maka royalti yang didapatkan:
Rp25.000 X 1.500) X 10 % = Rp3.750.000,00

Biasanya penerbit membebankan pajak penghasilan kepada penulis. Jadi royalti masih dipotong pajak 15 persen.



Sistem royalti berkala ini mempunyai keunggulan jika buku kita menjadi best seller. Kita akan terus memperoleh royalti selama buku kita dibeli orang sampai kapan pun.

Kelemahannya, kita memperoleh royalti tidak sekaligus. Jika kita berhadapan dengan penerbit baru sistem ini kurang aman. Kita tidak tahu apakah mereka disiplin dalam membayar royalti, apakah jujur dalam melaporkan hasil penjualan, dsb.
Dalam menentukan sistem royalti biasanya tergantung posisi tawar menawar antara penerbit dan penulis. Biasanya akan dirundingkan sehingga menguntungkan kedua belah pihak.


H. Perjanjian Penerbitan Buku


Karena hubungan antara hubungan antara penerbit dan penulis adalah mitra kerja, sudah sepatutnyalah diadakan perjanjian tertulis di antara kedua belah pihak. Perjanjian ini tentunya harus menguntungkan kedua belah pihak.

Surat perjanjian penerbitan buku meliputi banyak hal seperti hak cipta yang tetap ada pada penulis apa pun yang terjadi atau bagaimana pembagian royalti jika penulis lebih dari satu.

Sistem royalti juga bisa tertuang dalam perjanjian. Misalnya jika penerbit dan penulis memutuskan mitra/sharing sehingga pembiayaan produksi ditanggung kedua belah pihak. Sistem royalti yang digunakan apakah bagi hasil dan sebagainya bisa dicantumkan dalam perjanjian.

Hal lain yang bisa diatur dalam perjanjian misalnya jika penulis tidak puas dengan suatu penerbit dan ingin berganti penerbit. Mengenai prosedur dan lain sebaginya biasanya tertuang dalam perjanjian.

Untuk lebih melihat contoh surat perjanjian penerbitan buku bisa diklik di sini.


I. Buku Terjemahan

Saat ini selain buku asli keluaran Indonesia banyak sekali buku-buku asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bahkan buku-buku terjemahan sangat diminati seperti Harry Potter misalnya.

Sebenarnya menerbitkan buku terjemahan merupakan kegiatan transfer ilmu. Dahulu pada zaman awal Islam para sarjana Muslim menerbitkan buku-buku dari Yunani, India, dan Persia.
Pada umumnya buku terjemahan yang ada di Indonesia diterjemahkan dari bahasa Inggris (Amerika Serikat) dan bahasa Arab (Mesir).

Lantas dengan berkembangnya buku terjemahan di Indonesia apakah buku-buku asli Indonesia menjadi tersaingi? Memang ada buku terjemahan yang sangat laku seperti Da Vinci Code karya Dan Brown dan La Tahzan karya Aidh al-Qarni. Namun buku-buku asli Indonesia semisal Ayat-Ayat Cinta karya Habbiburrahman AL-Shirazy dan Terapi Shalat Tahajjud karya Mohammad Soleh juga masih mempunyai pasar. Jadi, laku-tidaknya tergantung apakah buku terjemahan atau buku asli Indonesia itu memenuhi selera orang Indonesia.

Kapan penerbit menerbitkan buku terjemahan? Buku terjemahan jelas lebih mudah diterbitkan dibandingkan buku asli Indonesia. Jadi penerbit yang mau cepat berkembang dan memperbanyak produksinya akhirnya menerbitkan buku terjemahan.

Untuk buku terjemahan pengurusan hak cipta dan pembayaran royalti biasanya melalui literary agent yang ditunjuk si penerbit. Untuk royalti penulis meski ada yang mengurus sendiri, kebanyakan diwakili penerbit. Biasanya dalam perjanjian ada penyebutan soal jika sebuah buku diterjemahkan ke dalam bahasa asing.

Bagaimana dengan honor penerjemah? Honor penerjemah dihitung per halaman.

Selain buku asing yang diterjemahkan ke Indonesia ada juga buku Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing dan kebanyakan karya sastra seperti karya alm Parmoedya Ananta Thoer. Jika bukunya diterjemahkan ke dalam karya asing penerbit akan memperoleh royalti yang dibagi dengan penulis buku tersebut.


J. Hal Lain Seputar Penerbitan

J Pada saat apa buku dikatakan tidak laku? Buku dikatakan tidak laku jika dalam setahun 3000 eksemplar tidak habis terjual. Biasanya penerbit memutuskan untuk menjualnya dengan diskon agar modalnya kembali dalam waktu cepat. Diskon biasanya dilakukan jika pergerakan buku lambat dan sudah melewati masa-masa emasnya.

J Apakah kita harus izin jika ingin mengutip dari buku lain? Syarat kutipan ini diatur oleh tata cara penulisan karya ilmiah. Asal menunjukkan sumbernya biasanya tak perlu izin. Yang tidak dibolehkan apabila mengutip dan mengaku-aku miliknya.

J Bagaimana dengan izin jika ingin menerbitkan sendiri? Kita tidak perlu izin, hanya menyerahkan ke Departemen Kehakiman, Kejaksaaan atau Penerangan satu kopi begitu karya itu jadi. Kita tidak perlu menjadi anggota IKAPI untuk menerbitkan buku.

Biasanya saat ini ada katalog yang disebut ISSN dan ISBN. ISSN digunakan untuk katalog jurnal dan ISBN untuk buku.

J Bagaimana dengan buku referensi asing? Buku referensi asing harus izin karena ada hak cipta. Boleh tidaknya tergantung pada besaran royalti yang dibayar. Syarat lain yaitu tidak boleh menyinggung soal SARA.

J Akhir-akhir ini ada tren yang dikenal dengan penerbitan elektronik (e-Book) Namun agaknya di Indonesia ini belum terlalu memasyarakat. Mungkin lima atau sepuluh lagi e-Book ini akan lebih dikenal.


Mungkin sekian dulu artikel dari saya, semoga bermanfaat. Saran saya, jangan pernah berputus asa untuk menerbitkan buku Anda. Penulis terkenal seperti JK Rowling untuk fiksi atau Rhenald Kasali dan Jalaluddin Rahmat untuk nonfiksi juga pernah mereka kegagaln. Namun mereka tak kenal menyerah sehingga menghasilkan buku yang bermanfaat jika dibaca.
Jika Anda masih memiliki pertanyaan jangan sungkan untuk bertanya pada kami.

Sumber Referensi
-Wawancara ekslusif dengan Hernowo,CEO Mizan Learning Centre
-Website http://jonru.multiply.com
-Website www.pembelajar.com

Minggu, Februari 24, 2008

Kiat Sukses Menulis Opini

Saya pernah mengikuti pelatihan jurnalistik di Kabamedia di komp.Bumi Panyileukan. Saya berkesempatan mewawancarai Bapak Budhiana, redaktur opini Pikiran Rakyat. Trus, hasil wawancaranya dibuat artikel. Cara pengajaran di Kabamedia cukup unik, setiap pertemuan dari tulisan saya pasti ada yang salah, tapi jadi dapat pelajaran baru. Ini hasil tulisanku setelah beberapa kali dikoreksi. Udah dikirim, masih ga dimuat juga. Keuheul urang, kalau surat pembaca mah dimuat wae, tapi kan teu dapet duit euy... so, this is the article:

Sebagai intelektual muda, kita perlu menyebarluaskan pengetahuan dan gagasan-gagasan kita kepada masyarakat. Akan tetapi kita selalu terbentur oleh masalah menulisnya. Sering ditolak, kehabisan ide, atau bingung menentukan tema yang akhirnya membuat kita malas untuk menulis. Padahal sebenarnya tulisan opini itu bisa dimuat oleh media jika kita telah memenuhi syarat-syaratnya.

Namun sebelum beranjak lebih jauh kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu opini. Ada beberapa jenis naskah yang terdapat di media seperti berita, iptek, profil, kisah, fiksi, opini, dll. Opini merupakan naskah yang mengangkat sikap atau pendapat penulis terhadap topik atau isu yang sedang hangat. Opini bersifat memengaruhi pembaca agar sejalan atau tidak sejalan dengan sikap penulis. Berbeda dengan tulisan-tulisan lainnya opini memiliki beberapa syarat. Ini dia beberapa syarat agar sukses menulis opini.

Harus aktual

Salah satu syarat penting untuk menulis opini adalah aktualitas. Dalam menulis kita harus jeli melihat topik yang sedang hangat menjadi pembicaraan akhir-akhir ini. Hal ini bisa berupa kontrofersi yang sering menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Aktualitas itu diperlukan jika kita menulis di surat kabar karena surat kabar frekuensi terbitnya harian. Masalah yang aktual hari ini bisa menjadi basi pada esok harinya. Hal ini tentu berbeda jika menulis pada tabloid atau majalah yang terbit seminggu atau sebulan sekali. Masalah aktualitas tidak begitu penting jika kita menulis di surat kabar atau majalah.

Contoh aktualitas misalnya sekarang tentang peluang tim nasional Indonesia untuk merebut Piala AFF yang bulan ini (Januari 2007) diadakan di Singapura. Atau tentang cuaca buruk yang akhir-akhir ini terjadi memaksa berbagai penerbangan dan pelayaran ditunda. Budhiana, redaktur opini Pikiran Rakyat mengatakan persoalan yang kita angkat harus sesuai momentum yang ada atau up to date.

Pentingnya Otoritas

Biasanya kita sering menulis pengetahuan yang kita punya. Kita sering tidak menyadari bahwa yang kita tulis tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan kita. Budhiana menjelaskan bahwa salah satu syarat agar tulisan kita dimuat adalah harus memiliki otoritas untuk menjelaskan kepada publik.

Otoritas benar-benar diperlukan agar pembaca percaya terhadap penulis. Pembaca tentunya lebih percaya kepada penulis yang memang lebih ahli di bidangnya. Selain penguasaan masalah terhadap yang dibahas seorang penulis sebaiknya memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan masalah tersebut.

Otoritas itu bukan selalu berarti latar pendidikan. Bisa saja berupa aktivitas atau pekerjaan si penulis. Seorang mahasiswa Fikom misalnya, jika ia juga aktif di bidang keagamaan maka tentu saja ia bisa menulis bidang agama. Seorang lulusan Fisip yang saat ini bekerja sebagai wartawan tentu saja boleh menulis mengenai kewartawanan. Seorang mahasiswa FKG yang aktif di bidang kesenian bisa menulis tentang perkembangan seni. Budhiana mengatakan otoritas itu tidak berarti satu dan jangan terlalu banyak, maksimal tiga. Jika kita menulis suatu artikel namun tidak memiliki otoritas, itu menjadi tidak etis.

Bahasa Populer

Dalam menulis kita sering bangga jika menulis dengan kata-kata ilmiah yang belum tentu semua orang mengerti. Padahal salah satu syarat penting dalam menulis artikel adalah menggunakan bahasa populer yang biasa digunakan di kalangan masyarakat umum. Budhiana menjelaskan bahwa bahasa populer harus digunakan karena koran dibaca oleh semua kalangan. Jika kita menggunakan bahasa populer apa yang kita kemukakan dapat dipahami dengan baik dan mudah.

Menyangkut Isi Tulisan

Tanpa kita sadari dalam menulis kita sering mengkritik kebijakan seseorang. Hal itu sebisa mungkin harus kita hindari. Budhiana mengimbau agar mengkritik kebijakan pemerintah atau organisasi manapun yang dikritik adalah kebijakannya bukan orangnya. Sebuah tulisan harus memberikan pemahaman yang mendidik dan tidak menjatuhkan pihak lain.

Tulisan juga harus mengandung perspektif baru dan tidak klise. Tulisan yang baik adalah tulisan yang sanggup menganalisis sebuah masalah dalam sudut pandang yang lain atau unik. Misalnya, hilangnya pesawat Adam Air yang selalu dilihat dari sisi negatif, mungkin kita bisa ambil sisi positifnya. Dengan kejadian itu masyarakat diimbau agar lebih berhati-hati dalam menyikapi cuaca buruk akhir-akhir ini.

Tulisan harus lebih mementingkan keragaman pandangan bukan kedalaman pandangan. Budhiana mengatakan isi tulisan juga harus fokus, tidak berbelit-belit dan tidak bercabang-cabang. Tulisan juga tidak boleh terlalu akademis atau konseptual. Kita jangan menulis dengan terlalu banyak teori tanpa menganalisis persoalan aktual.

Bagaimana jika tetap tidak dimuat? Seorang JK Rowling saja yang saat ini karyanya menjadi best seller pernah beberapa kali mengalami penolakan, apalagi dengan kita yang baru memulai. Lantas, apakah kita harus berhenti?

Kamis, Februari 21, 2008

Makna Pendidikan Sesungguhnya

Ini tulisan saya waktu kelas 2 SMA, pas ada lomba penulisan artikel. Kayaknya kalo diedit lagi bisa dikirim yah nanti dalam rangka hari pendidikan nasional.

Tak bisa dipungkiri pendidikan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan adanya pendidikan seseorang yang pada awalnya tidak mengetahui apa-apa menjadi mengetahui segala hal. Dari yang tidak bisa menulis dan membaca menjadi terampil menulis dan membaca. Dari seseorang yang tidak berkemampuan apapun menjadi seseorang yang pandai dan berkemampuan IPTEK. Dalam Islam hal ini tercantum dalam surat Al-Alaq, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.” Dengan demikian jelaslah manusia memiliki kewajiban dalam mencari ilmu terutama dengan memperoleh pendidikan yang layak.

Sejak kapan seseorang memperoleh pendidikan? Apakah sekolah merupakan pendidikan yang pertama dan paling utama? Tentu saja tidak. Bahkan sebelum dilahirkan seseorang telah memperoleh pendidikan. Seorang laki-laki harus memilih calon istri yang cerdas, begitu juga wanita harus memilih pasangan hidup yang cerdas. Hal ini penting dilakukan karena apabila kedua orang tua memiliki pendidikan yang baik dan memiliki kecerdasan kemungkinan besar anak-anaknya pun akan memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi.

Setelah dilahirkan seseorang mendapat pendidikan yang pertama dari kedua orang tuanya. Orang secerdas apapun pada awalnya diajari oleh orang tuanya bagaimana cara berjalan, cara berbicara, cara membaca, cara menulis, cara makan yang baik dan benar, serta tata cara sopan santun dan akhlak yang baik dan benar. Setelah dididik kedua orang tuanya, seseorang akan memperoleh pendidikan formal yaitu sekolah.

Di negara ini masih banyak anak-anak yang tidak bisa merasakan pendidikan karena masalah biaya. Pendidikan seolah hanya milik kaum menengah ke atas saja. Apakah pendidikan harus dibeli dengan uang?

Di Indonesia masih banyak masalah-masalah lain yang berkaitan dengan pendidikan. Bagaimana caranya agar sistem pendidikan di Indonesia dapat sejajar dengan dengan bangsa-bangsa lain? Apakah kita sudah menyadari makna dari pendidikan itu sendiri? Dalam artikel ini penulis sebagai generasi muda akan memberikan pendapat dan solusi agar pendidikan di Indonesia dapat sejajar dengan bangsa lain sehingga dapat membentuk generasi muda yang cerdas, kritis, dan berakhlak mulia. Mudah-mudahan goresan tinta pada artikel ini dapat memberikan kemajuan bagi bangsa ini khususnya dalam bidang pendidikan.

Banyak orang yang menggembar-gemborkan pentingnya pendidikan namun tidak mengerti apa sebenarnya arti dari pendidikan tersebut. Pendidikan berarti suatu perbuatan atau cara untuk mendapatkan pengetahuan yang baru dengan cara pembelajaran/pelatihan-pelatihan. Dengan pendidikan orang yang semula tidak tahu menjadi tahu, yang semula tidak bisa menjadi bisa, yang asalnya tidak mengerti menjadi mengerti. Setiap orang berhak dan wajib memperoleh pendidikan karena dengan pendidikan seseorang akan memperoleh ilmu. Manusia wajib menuntut ilmu dari sejak lahir sampai meninggal. Oleh karena itu jelaslah bahwa pendidikan yang baik akan menuntun seseorang ke jalan kesuksesan.

Pendidikan yang baik dapat membawa generasi muda berkemampuan IPTEK tinggi dan dapat membangun bangsa ini di masa depan. Namun, bagaimana hal itu dapat tercapai? Tentu saja hal ini butuh perjuangan dari semua pihak.

Di Indonesia kita mengenal ada 3 jenis pendidikan, yaitu pendidikan nonformal, formal, dan informal. Ketiga jenis pendidikan itu sebenarnya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menciptakan sumber daya manusia yang handal, berkemampuan IPTEK tinggi, dan berakhlak mulia.

Dari ketiga jenis pendidikan tersebut, pendidikan formal memiliki adalah jenis pendidikan yang paling utama. Pendidikan formal dimulai dari TK, SD, SMP, SMA, sampai Universitas. Jenis pendidikan ini menyimpan banyak masalah. Pemerintah telah mencanangkan program wajib belajar 9 tahun mulai dari SD sampai SMP. Namun, sudah efektifkah program tersebut? Tampaknya pemerintah masih belum konsisten dengan program tersebut. Biaya pendidikan yang semakin mahal dan tidak jelasnya sistem pendidikan semakin mendukung hal tersebut.

Dalam pasal 31 ayat 1 UUD 1945 disebutkan, “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Hal ini berarti setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan. Namun dalam kenyataannya tidak semua penduduk mendapatkan haknya. Seiring dengan semakin mahalnya biaya pendidikan hanya penduduk menengah ke atas yang mampu menjangkaunya. Padahal sebagian besar penduduk Indonesia adalah golongan memnengah ke bawah sehingga banyak anak yang terpaksa putus sekolah karena masalah biaya.

Masalah biaya merupakan masalah yang klasik dalam dunia pendidikan. Selain itu, masih banyak masalah lainnya. Dulu pendidikan di Indonesia masih di atas Malaysia. Guru-guru Indonesia banyak yang dikirim ke Malaysia. Sekarang malah terjadi kebalikannya. Pendidikan di Malaysia sudah jauh melebihi mantan gurunya tersebut. Pendidikan di Indonesia seolah jalan di tempat sehingga sudah tertinggal jauh dari negara-negara lain yang telah memiliki sistem pendidikan berkualitas.

Sebenarnya apa masalah dari pendidikan di Indonesia sehingga melenceng jauh dari makna pendidikan sesungguhnya? Apakah Indonesia telah menggunakan sistem yang salah? Sebenarnya yang patut dipersalahkan bukan sistemnya, melainkan aplikasinya. Sistem pendidikan di Indonesia sudah sangat baik, bahkan sudah banyak diikuti oleh negara lain. Namun, dalam aplikasinya masih banyak melakukan kesalahan sehingga melenceng dari tujuan semula.

Sampai saat ini sebenarnya generasi muda Indonesia menyimpan banyak potensi dan berwawasan IPTEK tinggi. Buktinya Indonesia berkali-kali menjadi juara dalam Olimpiade Sains Internasional. Namun mengapa setelah beranjak dewasa mereka malah menyalahgunakan kepintarannya? Kurangnya pendidikan akhlak ditengarai menjadi salah satu penyebabnya.

Pendidikan yang baik tidak hanya membentuk seseorang menjadi cerdas semata. Kecerdasan yang tinggi tanpa disertai akhlak yang mulia akan menjadi sia-sia belaka. Di sinilah peran guru sebagai pendidik diperlukan, sebab guru tidak hanya berperan sebagai pengajar dalam artian “transfer ilmu”. Guru harus mampu mendidik anak didiknya agar berakhlak mulia serta berguna bagi nusa dan bangsa.

Saat ini kualitas guru di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Masih banyak guru yang tidak ahli dalam bidang tertentu namun tetap dipaksakan. Hal ini tentu berdampak buruk bagi siswanya.

Pemerintah harus lebih selektif lagi dalam memilih guru yang berkualitas. Guru yang baik harus mampu memotivasi anak didiknya. Bukannya malah menjatuhkan dan menakut-nakuti. Guru yang baik harus mampu mengembangkan potensi yang ada dalam diri siswanya. Selain itu juga harus mengetahui sifat dan kemampuan muridnya. Dengan demikian diharapkan kegiatan belajar-mengajar dapat berjalan dengan baik.

Sistem pendidikan di Indonesia terasa sangat memberatkan. Betapa tidak, dalam 1 tahun seorang siswa harus menguasai kurang lebih 16 mata pelajaran. Belum lagi ditambah dengan tugas-tugas dan ulangan harian yang dibebankan oleh setiap guru. Belajar seolah hanya menjadi beban, bukan kebutuhan.

Sebenarnya kita dapat mencontoh negara lain yang sudah berhasil dalam menjalankan sistem pendidikan. Biasanya seorang siswa diberi kebebasan untuk menentukan mata pelajaran yang paling diminati dan dikuasai. Mata pelajaran yang harus dikuasai kira-kira hanya 6 atau 7 saja. Dengan demikian kegiatan belajar dapat dinikmati dan tidak menjadi beban.

Kesalahan lainnya adalah kurang kondusifnya lingkungan tempat pembelajaran dan kurangnya sarana-prasarana untuk belajar-mengajar. Contohnya kelas yang tidak terawat, kotor, atau kurang ventilasi, sehingga membuat kegiatan belajar-mengajar terasa kurang nyaman.

Dalam sistem KBK seharusnya jumlah siswa dalam setiap kelas dibatasi hingga 20 atau 30 orang saja. Dalam kenyataannya, satu kelas terdiri dari 49 orang. Jumlah ini tentunya terlalu banyak sehingga kegiatan pembelajaran menjadi tidak efektif. Apabila jumlah siswa hanya 20 atau 30 orang saja, seorang guru akan lebih mudah dalam mengetahui karakter dari masing-masing muridnya.

Sarana-prasarana yang menunjang dalam proses pembelajaran mungkin masih kurang khususnya dalam peralatan labolatorium dan perangkat percobaan. Banyaknya alat-alat yang rusak dan kurang terawat membuat pembelajaran menjadi kurang optimal.

Intinya, peran generasi muda sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa ini. Oleh karena itu sektor pendidikan harus terus dibenahi. Apabila pendidikan di Indonesia telah maju, dengan sendirinya generasi muda yang berkemampuan IPTEK tinggi akan terbentuk.

Pemerintah pun harus terbuka dalam menerima saran dan kritikan yang membangun khususnya dalam sektor pendidikan karena tanpa pendidikan yang berkualitas generasi muda yang baik tidak akan terbentuk. Demikian akhir dari artikel ini. Semoga dapat berguna bagi berbagai pihak dan dapat membangun dunia pendidikan di Indonesia agar dapat terus meningkat dan terarah.